Loading
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan. (Foto: bpjph)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Industri halal terus menunjukkan peran strategis dalam menopang perekonomian Indonesia. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mengungkapkan bahwa ekosistem industri halal dan rantai pasok halal saat ini berkontribusi sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp4.900 triliun.
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Ahmad Haikal Hasan, menegaskan bahwa besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa halal tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai urusan sertifikasi produk. Menurutnya, sektor halal telah menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi nasional.
“Kontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional sangat besar. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ekosistem Halal Menggerakkan Banyak Sektor
Meski memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi, Haikal menilai peran industri halal sering kali tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat. Padahal, aktivitas ekonomi yang tercipta dari ekosistem halal melibatkan berbagai sektor yang saling terhubung.
Industri halal tidak hanya mencakup produk akhir yang dikonsumsi masyarakat, tetapi juga mencakup rantai pasok yang panjang mulai dari industri pengolahan, logistik, distribusi, perdagangan, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Dengan demikian, penerapan Jaminan Produk Halal (JPH) tidak hanya memberikan kepastian bagi konsumen, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aktivitas produksi dan perdagangan.
“Di balik satu produk halal terdapat rantai pasok yang panjang dan melibatkan jutaan pelaku usaha. Ketika ekosistem halal tumbuh, maka sektor produksi, distribusi, perdagangan hingga ekspor juga ikut berkembang,” jelas Haikal.
Ia menambahkan bahwa sektor halal telah menjadi instrumen penting dalam menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun internasional.
Halal Menjadi Simbol Kualitas dan Kepercayaan
Menurut Haikal, pemahaman mengenai halal juga perlu diperluas. Halal tidak hanya berkaitan dengan makanan, minuman, atau kewajiban agama semata, tetapi telah berkembang menjadi sistem nilai yang mencerminkan kualitas, keamanan, dan kepercayaan.
Di tingkat global, produk halal kini semakin identik dengan standar kebersihan, ketertelusuran produk, keamanan, dan integritas proses produksi. Karena itu, konsep halal semakin diterima oleh berbagai kalangan, tidak terbatas pada konsumen Muslim.
“Halal bukan hanya untuk Muslim. Halal adalah for all. Halal telah menjadi bagian dari gaya hidup modern dan simbol kualitas, kebersihan, keamanan, ketertelusuran, serta kepercayaan yang dibutuhkan masyarakat global saat ini,” katanya dikutip Antara.
Halal Dorong Produktivitas dan Kualitas SDM
Lebih jauh, Haikal menilai pertumbuhan industri halal tidak hanya berdampak pada sektor bisnis. Ketika halal menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup masyarakat, manfaat yang muncul juga mencakup peningkatan produktivitas, kepercayaan publik, serta kualitas sumber daya manusia.
Dengan potensi pasar halal global yang terus berkembang, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama industri halal dunia. Dukungan regulasi, penguatan rantai pasok, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan sektor ini secara berkelanjutan.
“Ketika halal menjadi budaya dan gaya hidup, maka yang tumbuh bukan hanya industri halal, tetapi juga kepercayaan, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia,” tutup Haikal.