Trump Diduga Murka ke Netanyahu dalam Percakapan Telepon, Situasi Timur Tengah Memanas


 Trump Diduga Murka ke Netanyahu dalam Percakapan Telepon, Situasi Timur Tengah Memanas Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Wash

WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan melontarkan kemarahan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon yang terjadi pada Senin (1/6/2026). Informasi ini diungkap oleh Axios yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut.

Dalam percakapan itu, Trump disebut menggunakan bahasa keras dan menyinggung posisi politik Netanyahu yang tengah menghadapi proses hukum di dalam negeri.

“Anda pasti sudah ada di penjara kalau bukan karena saya. Semua orang sekarang membenci Anda. Semua orang membenci Israel karena hal ini,” ujar Trump kepada Netanyahu, menurut salah satu sumber yang dikutip Axios.

Pernyataan tersebut menggambarkan ketegangan serius dalam komunikasi antara dua pemimpin yang selama ini dikenal memiliki hubungan strategis dalam kebijakan Timur Tengah.

Selain menyinggung persoalan pribadi Netanyahu, Trump juga disebut menyoroti meningkatnya eskalasi militer di perbatasan Israel–Lebanon.

Menurut laporan tersebut, Trump menilai respons Israel terhadap serangan kelompok Hizbullah terlalu berlebihan dan tidak seimbang dengan situasi di lapangan.

“Trump memahami adanya peningkatan serangan Hizbullah, tetapi ia menilai tindakan Israel sebagai eskalasi yang tidak proporsional,” ungkap sumber lain kepada Axios.

Sebelumnya, pembicaraan antara perwakilan Lebanon dan Israel sempat berlangsung di Washington pada 16 April. Setelah pertemuan tersebut, Trump sempat mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak.

Namun di lapangan, situasi tidak sepenuhnya mereda. Israel dilaporkan masih melancarkan serangan harian di sejumlah wilayah Lebanon selatan, sementara Hizbullah terus melakukan operasi balasan terhadap pasukan Israel.

Ketegangan regional semakin meningkat setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran dapat menghentikan seluruh negosiasi dengan Amerika Serikat jika Israel terus melanjutkan aksi militernya di Lebanon.

Pernyataan tersebut menambah kompleksitas konflik yang kini melibatkan berbagai kekuatan besar di Timur Tengah.

Dalam laporan yang sama, Axios juga menyebut bahwa Trump beberapa kali melontarkan kata-kata kasar, termasuk menyebut Netanyahu “gila” dalam percakapan tersebut.

Ungkapan itu mencerminkan meningkatnya frustrasi Trump terhadap dinamika konflik yang terus meluas di kawasan tersebut.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru