Nilai Ekonomi Jamu Tembus Rp1,2 Triliun, BPOM Dorong Inovasi Herbal Indonesia ke Pasar Global


 Nilai Ekonomi Jamu Tembus Rp1,2 Triliun, BPOM Dorong Inovasi Herbal Indonesia ke Pasar Global Kepala BPOM Taruna Ikrar (dua dari kanan) dalam Kick Off Pekan Jamu 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Industri jamu Indonesia terus menunjukkan potensi yang menjanjikan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat nilai ekonomi industri jamu nasional saat ini telah mencapai sekitar Rp1,2 triliun per tahun. Namun, angka tersebut dinilai masih jauh dari potensi sebenarnya yang bisa diraih Indonesia melalui pengembangan tanaman herbal berbasis riset dan inovasi.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas tanaman obat yang sangat besar. Jika dikelola secara optimal dan didukung penelitian yang kuat, potensi pasar global sektor wellness dan kesehatan berbasis herbal diperkirakan dapat mencapai Rp350 triliun per tahun.

Menurut Taruna, tantangan utama saat ini bukan pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada pengembangan produk herbal yang mampu naik kelas dari sekadar jamu tradisional menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT) maupun fitofarmaka yang memiliki bukti ilmiah lebih kuat.

“Nilai ekonomi industri jamu yang tercatat saat ini sekitar Rp1,2 triliun. Padahal peluang pasar global untuk produk kesehatan dan wellness berbasis herbal sangat besar jika kekayaan hayati Indonesia dapat dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya saat membuka Kick Off Pekan Jamu 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Kurkumin Dinilai Punya Keunggulan Kompetitif

Salah satu kekuatan Indonesia, lanjut Taruna, terletak pada kandungan kurkumin yang terdapat dalam kunyit dan temulawak. Senyawa alami ini dinilai memiliki manfaat kesehatan yang sangat luas dan berpotensi menjadi komoditas unggulan Indonesia di pasar internasional.

Ia menilai kurkumin mampu bersaing dengan ginseng yang selama ini menjadi ikon produk herbal dari negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok.

Kurkumin diketahui memiliki sifat antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, senyawa ini juga memiliki efek antiinflamasi yang membantu mengurangi peradangan serta vasodilator yang mendukung kelancaran aliran darah.

Dengan berbagai manfaat tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri herbal dunia. Namun, penguatan riset, pengelolaan sumber daya, dan hilirisasi produk masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dipercepat.

Tak Hanya Obat, Herbal Berpotensi Masuk Industri Kosmetik

Potensi tanaman herbal Indonesia juga tidak terbatas pada sektor kesehatan. Berbagai jenis tanaman rimpang seperti kunyit dan kelompok temu-temuan memiliki kandungan senyawa aktif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kosmetik dan perawatan tubuh.

Tren global yang semakin mengarah pada produk alami dan ramah lingkungan membuka peluang baru bagi industri herbal nasional untuk memperluas pasar, baik di dalam maupun luar negeri.

Ribuan Produk Jamu Beredar, Tapi yang Naik Kelas Masih Sedikit

Data BPOM menunjukkan saat ini terdapat sekitar 22 ribu produk jamu yang telah memiliki Nomor Izin Edar (NIE). Namun, jumlah produk yang berhasil meningkat statusnya menjadi produk berbasis pembuktian ilmiah masih relatif terbatas.

Dari total tersebut, baru sekitar 71 produk yang berstatus Obat Herbal Terstandar (OHT), sementara 21 produk telah mencapai tingkat fitofarmaka, yaitu obat berbahan alam yang telah melalui proses penelitian dan pengujian lebih mendalam dikutip Antara.

Taruna menjelaskan bahwa proses peningkatan status tersebut membutuhkan tahapan ilmiah yang tidak sederhana. Mulai dari uji praklinis, pengujian stabilitas produk, penelitian bioavailabilitas, hingga pembuktian manfaat secara ilmiah.

Menurutnya, semakin kuat bukti ilmiah yang dimiliki sebuah produk herbal, maka semakin tinggi pula kepercayaan pasar dan nilai ekonominya.

Karena itu, BPOM mendorong kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pelaku industri agar pengembangan produk herbal Indonesia dapat berlangsung lebih cepat dan mampu bersaing di pasar global.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru