IHSG Menguat, Danantara Sebut Investor Makin Yakin pada Fundamental Ekonomi Indonesia


 IHSG Menguat, Danantara Sebut Investor Makin Yakin pada Fundamental Ekonomi Indonesia Arsip foto - Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Dony Oskaria memberi keterangan ketika ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir dinilai sebagai sinyal positif yang menunjukkan semakin tingginya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengatakan bahwa pasar kini semakin melihat Indonesia sebagai negara dengan fundamental ekonomi yang kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan.

Menurut Dony, apresiasi investor terhadap pasar modal Indonesia tidak terlepas dari kinerja perusahaan-perusahaan nasional yang dinilai mampu menjaga stabilitas dan pertumbuhan bisnis di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

"Kami tentu berterima kasih kepada para investor yang terus menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia maupun perusahaan-perusahaan nasional. Kepercayaan itu tercermin dari penguatan IHSG yang cukup signifikan, termasuk nilai tukar rupiah yang juga menunjukkan tren positif," ujar Dony usai melepas peserta BTN Jakarta International Marathon di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (14/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa dinamika pasar dalam jangka pendek memang kerap dipengaruhi berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun dalam jangka panjang, investor umumnya akan kembali menilai kekuatan fundamental ekonomi suatu negara dan kualitas perusahaan yang menjadi tujuan investasi.

Menurutnya, berbagai isu yang muncul di pasar tidak akan mengubah fakta bahwa Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat serta perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang sehat.

"Tentu ada berbagai sentimen yang memengaruhi pasar. Namun pada akhirnya investor akan kembali melihat fundamental perusahaan dan fundamental negara," katanya.

Dony menilai perusahaan-perusahaan nasional, khususnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), masih memiliki posisi yang kuat di sejumlah sektor strategis seperti perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga layanan publik. Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus meningkatkan nilai perusahaan ke depan.

"Kalau dilihat, fundamental perusahaan-perusahaan kita cukup baik. Baik sektor perbankan, tambang, infrastruktur maupun BUMN lainnya menunjukkan kinerja yang positif," ujarnya.

Terkait aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback yang dilakukan sejumlah perusahaan BUMN, Dony menilai langkah tersebut merupakan praktik bisnis yang lazim dilakukan ketika harga saham dianggap belum mencerminkan nilai sebenarnya dari perusahaan.

Menurutnya, buyback dapat menjadi strategi untuk mengoptimalkan investasi perusahaan sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang.

"Buyback adalah proses yang normal. Ketika perusahaan melihat harga sahamnya berada di bawah nilai fundamental, tentu menjadi peluang yang baik untuk berinvestasi pada sahamnya sendiri," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Dony optimistis kepercayaan investor terhadap Indonesia akan terus meningkat, seiring berjalannya transformasi BUMN dan tetap terjaganya stabilitas ekonomi nasional.

"Kalau aset atau perusahaan memiliki kualitas yang baik, tentu harus dimanfaatkan dan dioptimalkan dengan maksimal," katanya.

Optimisme serupa juga disampaikan Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu. Ia menilai kekuatan fundamental ekonomi Indonesia perlu didukung oleh bergeraknya sektor riil, salah satunya industri perumahan yang memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional.

Nixon mengatakan BTN terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan dengan menghadirkan berbagai inovasi pembiayaan yang dapat memperluas akses masyarakat untuk memiliki rumah.

Menurutnya, industri perumahan tidak hanya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan efek berantai yang menggerakkan banyak sektor usaha lainnya.

"Kita harus mampu menciptakan permintaan, bukan hanya menunggu pasar bergerak. Karena itu BTN terus menyiapkan berbagai strategi agar sektor perumahan tetap tumbuh dan masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk membeli rumah," ujar Nixon dikutip Antara.

Ia menambahkan, BTN tetap menjalankan strategi pertumbuhan secara hati-hati dengan menjaga kualitas kredit dan memperkuat ekspansi bisnis yang sehat.

"Kami tetap optimistis pertumbuhan dapat dijaga. Berbagai upaya terus dilakukan agar semakin banyak masyarakat yang bisa memiliki rumah," tutupnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru