(kiri-kanan) CEO Danantara Rosan Roeslani, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad berkunjung ke area Main Hall PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (19/5/2026). (ANTARA/ Muhammad Heriyanto)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia, Chief Executive Officer (CEO) Rosan Roeslani justru melihat peluang besar, khususnya pada saham-saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI).Menurut Rosan, banyak saham perbankan nasional saat ini masih diperdagangkan di bawah harga wajarnya atau undervalued.
Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah rasio Price to Book Value (PBV) yang masih berada di bawah angka 1 kali.Padahal, dalam kondisi ekonomi yang normal, valuasi saham sektor perbankan umumnya dapat mencapai lebih dari 2 hingga 3 kali PBV.
“Kalau kita lihat sektor perbankan, Price to Book-nya masih di bawah 1. Dalam situasi normal seharusnya bisa di atas 2 sampai 3. Jadi jelas masih ada potensi kenaikan,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi pasar saham yang sedang mengalami tekanan. Pada penutupan perdagangan sesi I Selasa (19/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 202,97 poin atau 3,08 persen ke level 6.396,27.
Sementara indeks LQ45 turun 13,67 poin atau 2,10 persen menjadi 637,42.
Meski demikian, Rosan menegaskan bahwa fluktuasi pasar merupakan hal yang normal dalam dunia investasi. Ia menilai fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia masih sangat solid dan memiliki potensi imbal hasil menarik dalam jangka panjang.
“Di pasar saham memang selalu ada naik dan turun. Tetapi kalau melihat fundamental perusahaan, yield yang dimiliki cukup baik dan valuasi saat ini justru menarik,” katanya.
Optimisme tersebut juga tercermin dari meningkatnya jumlah investor ritel di Indonesia. Rosan mengungkapkan bahwa jumlah investor pasar modal saat ini telah mencapai sekitar 26 hingga 27 juta orang. Angka itu meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 20 juta investor.
Menurutnya, pertumbuhan sekitar 6 juta investor baru itu menjadi sinyal bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia terus menguat.
“Kalau orang melihat bursa tidak punya prospek, tentu jumlah investornya akan turun. Tapi sekarang justru bertambah besar. Artinya masyarakat percaya pasar kita masih menjanjikan,” ujarnya.
Rosan juga menilai peningkatan jumlah investor tidak lepas dari edukasi yang terus dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan BEI, terutama kepada generasi muda dan investor domestik.
Edukasi tersebut dianggap penting agar masyarakat memahami bahwa investasi saham bukan sekadar mencari keuntungan jangka pendek, melainkan instrumen investasi jangka menengah dan panjang yang dapat membantu pertumbuhan ekonomi nasional.
“Investasi di pasar modal adalah investasi jangka menengah dan panjang yang bisa memberikan return baik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Rosan dikutip Antara.
Data perdagangan di BEI menunjukkan aktivitas pasar tetap tinggi. Frekuensi transaksi saham mencapai lebih dari 1,7 juta kali dengan total volume perdagangan sekitar 27,96 miliar lembar saham senilai Rp15,13 triliun.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, tercatat 96 saham menguat, 611 saham melemah, dan 107 saham stagnan.
Pada hari yang sama, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama jajaran Danantara Indonesia turut melakukan kunjungan ke Gedung BEI.
Dalam kunjungan tersebut, Rosan didampingi Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria dan disambut Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi serta Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna.