Senin, 28 September 2026

IHSG Melemah, Pasar Cermati Hasil Tinjauan MSCI dan Sentimen Global


 IHSG Melemah, Pasar Cermati Hasil Tinjauan MSCI dan Sentimen Global Pekerja melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/agr/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Pergerakan pasar dipengaruhi respons jangka pendek investor yang mencermati hasil tinjauan MSCI terhadap saham-saham Indonesia untuk periode Agustus 2026.

IHSG sebenarnya dibuka di zona positif. Namun, sekitar pukul 09.15 WIB, indeks berbalik melemah 33,46 poin atau 0,52 persen ke level 6.340,39.

Tekanan serupa terjadi pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 turun 4,00 poin atau 0,63 persen ke posisi 629,84.

IHSG Masih Punya Peluang Menguat

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pergerakan IHSG masih memiliki peluang untuk kembali menguat selama indeks mampu menjaga level support tertentu.

Menurutnya, IHSG perlu bertahan di area 6.308–6.269 untuk menjaga peluang menembus level 6.377.

Jika mampu melewati level tersebut, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.462 hingga 6.550. Sementara itu, resistance mayor berikutnya berada di sekitar 6.635–6.723.

Sebaliknya, apabila IHSG kembali gagal menembus 6.377 dan turun di bawah 6.308, indeks berpotensi menguji level 6.269 hingga 6.247 sebagai area support utama.

Tinjauan MSCI Jadi Perhatian Investor

Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar domestik adalah hasil tinjauan MSCI untuk Agustus 2026.

Dalam tinjauan tersebut, MSCI melakukan perubahan terhadap komposisi sejumlah saham Indonesia. Dua saham dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, dengan salah satunya diturunkan kategorinya ke MSCI Global Small Cap Index.

Selain itu, terdapat satu saham yang dipindahkan ke kategori MSCI Global Small Cap Index. Di sisi lain, MSCI juga mengeluarkan sembilan saham Indonesia dari indeks tersebut.

Dengan perubahan itu, masih terdapat sembilan saham Indonesia yang berada di MSCI Global Standard Index. Sementara sekitar 33 saham Indonesia bertahan dalam daftar MSCI Global Small Cap Indexes.

Meski terjadi perubahan pada sejumlah saham, MSCI tidak mengubah komposisi negara Emerging Markets dalam MSCI Frontier Emerging Markets Index setelah menyelesaikan Annual Country Review 2026.

“Tidak terdapat perubahan terhadap daftar negara Emerging Markets yang saat ini masuk dalam indeks,” kata Liza.

Artinya, hasil review tahunan tersebut belum membawa perubahan terhadap komposisi negara yang masuk dalam indeks terkait.

Utang Pemerintah Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, investor juga mencermati perkembangan fiskal Indonesia. Utang pemerintah tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun hingga Juni 2026, atau sekitar 41,26 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut meningkat Rp1.819,79 triliun atau 21,5 persen dibandingkan akhir September 2024.

Jika dibandingkan dengan 2020, pertumbuhan utang pemerintah mencapai 67,5 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB nominal yang berada di level 64,9 persen.

Pada saat yang sama, rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan fiskal meningkat menjadi 19 persen, dari sebelumnya 14,6 persen pada 2022.

“Meski masih di bawah batas 60 persen PDB, tren ini perlu diwaspadai untuk menjaga keberlanjutan fiskal,” ujar Liza.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena kondisi fiskal turut memengaruhi persepsi terhadap stabilitas ekonomi dan ruang kebijakan pemerintah.

Inflasi AS Redakan Tekanan terhadap The Fed

Dari pasar global, sentimen relatif lebih positif setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Juli 2026 sesuai dengan ekspektasi pasar.

Headline Consumer Price Index (CPI) AS naik 0,1 persen secara bulanan atau month to month (mtm), sementara secara tahunan melambat menjadi 3,4 persen.

Core CPI tercatat naik 0,2 persen secara bulanan dan berada di level 2,5 persen secara tahunan.

Data tersebut memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan suku bunga.

Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September bahkan meningkat menjadi 62 persen dari sebelumnya 54 persen.

Namun, investor masih perlu mencermati potensi tekanan inflasi pada Agustus, terutama jika harga minyak kembali mengalami kenaikan.

Pasar selanjutnya akan menunggu rilis Producer Price Index (PPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Geopolitik Masih Menjadi Risiko

Selain inflasi dan suku bunga, risiko geopolitik juga masih membayangi pasar global.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz kembali menjadi perhatian investor.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas jalur tersebut. Iran, di sisi lain, menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum AS menghentikan permusuhan dan memenuhi sejumlah tuntutan.

Ketegangan tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dan rantai pasokan global.

Kekhawatiran juga meningkat setelah adanya serangan terhadap kapal komersial di kawasan Bab el-Mandeb, yang berpotensi mengganggu jalur distribusi dan pasokan energi internasional.

Bursa Global Bergerak Beragam

Pergerakan bursa saham global turut menjadi perhatian investor domestik.

Pada perdagangan Rabu (12/8), sejumlah bursa Eropa ditutup melemah. Euro Stoxx 50 turun 0,16 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,10 persen, DAX Jerman turun 0,20 persen, sedangkan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,50 persen.

Sementara itu, Wall Street bergerak variatif. S&P 500 menguat 0,30 persen ke level 7.749,19 dan Nasdaq Composite naik 0,50 persen menjadi 26.588,49. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 0,30 persen ke level 53.770,16.

Di kawasan Asia pada Kamis pagi, sebagian besar indeks bergerak menguat. Nikkei naik 1,62 persen ke 68.614,00, Shanghai Composite menguat 0,45 persen ke 3.964,4, dan Kospi melonjak 4,08 persen ke 6.847,41.

Di sisi lain, Hang Seng turun 0,27 persen ke 25.370,81 dan Straits Times melemah sekitar 0,55 persen ke 5.689,26 dikutip Antara.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, investor masih perlu mencermati perkembangan IHSG sepanjang perdagangan. Hasil tinjauan MSCI, kondisi fiskal, data inflasi AS, kebijakan The Fed, hingga risiko geopolitik menjadi faktor yang berpotensi menentukan arah pasar dalam jangka pendek.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru