Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani memberikan keterangan pers setelah melaporkan capaian investasi periode Kuartal II/2026 dan Semester I/2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (16/7/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Peta investasi hilirisasi Indonesia mulai berubah. Jika selama bertahun-tahun nikel menjadi komoditas paling diburu investor, kini posisi tersebut untuk pertama kalinya diambil alih oleh bauksit.
Perubahan ini menjadi sinyal bahwa agenda hilirisasi Indonesia semakin meluas. Pemerintah pun menilai pergeseran tersebut sebagai momentum untuk memperkuat pengolahan berbagai sumber daya alam lainnya agar memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan, sepanjang Kuartal II 2026, bauksit menjadi komoditas utama yang menarik minat investasi, baik dari investor domestik maupun asing.
"Biasanya kita tahu selalu nikel. Kini terjadi pergeseran ke bauksit karena ada sejumlah pembangunan fasilitas pengolahan bauksit yang dilakukan investor dalam maupun luar negeri," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan usai melaporkan perkembangan realisasi investasi Semester I 2026 kepada Presiden Prabowo Subianto.
Selain perubahan komoditas unggulan, pemerintah juga mencatat pertumbuhan investasi yang tetap positif. Sepanjang Kuartal II 2026, realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun, meningkat 7,1 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, investasi pada sektor hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun, atau tumbuh 5,7 persen. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 29,8 persen terhadap total investasi nasional pada triwulan tersebut.
Menurut Rosan, capaian itu menunjukkan bahwa strategi hilirisasi semakin mendapat kepercayaan investor.
Meski demikian, pemerintah menilai pengembangan hilirisasi di banyak komoditas masih berada pada tahap awal. Berbeda dengan nikel yang kini telah memiliki ekosistem industri hampir lengkap, mulai dari pengolahan bijih, produksi nikel sulfat, nickel matte, katoda, anoda, sel baterai, battery pack, hingga daur ulang baterai kendaraan listrik.
Model pengembangan seperti itulah yang akan diterapkan pada komoditas strategis lainnya.
"Bauksit menjadi salah satu prioritas. Demikian juga hilirisasi kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, dan berbagai komoditas lainnya," kata Rosan.
Ia menegaskan Indonesia memiliki keunggulan kompetitif berupa cadangan sumber daya alam yang besar. Karena itu, pemerintah akan memprioritaskan komoditas yang telah masuk dalam peta jalan hilirisasi nasional dan memiliki peluang besar menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Dengan bergesernya fokus investasi ke bauksit, pemerintah berharap semakin banyak industri pengolahan yang dibangun di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing nasional, menciptakan lapangan kerja, sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.