Minggu, 13 September 2026

BI Perkuat Stabilitas Rupiah untuk Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan


 BI Perkuat Stabilitas Rupiah untuk Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (tengah) bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (kiri) dan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu (kanan) berjalan usai mengikuti rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/agr.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas ekonomi nasional sebagai fondasi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, berbagai langkah strategis terus ditempuh, mulai dari penguatan stabilitas nilai tukar rupiah hingga percepatan digitalisasi sistem pembayaran.

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan penguatan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi fokus utama BI agar inflasi tetap terkendali sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasional.

"Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, BI tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan sebagai instrumen utama. Bank sentral juga mengoptimalkan berbagai bauran kebijakan moneter agar respons terhadap dinamika ekonomi menjadi lebih efektif.

Salah satu strategi yang terus diperkuat adalah optimalisasi instrumen stabilisasi nilai tukar melalui triple intervention di pasar valuta asing, yakni pada pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Selain itu, BI juga memaksimalkan pemanfaatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan lindung nilai (hedging) DNDF.

Berbagai kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik investasi sehingga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.

Di sisi lain, BI juga terus memastikan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan tetap terjaga. Posisi SRBI dinilai semakin terkendali dan ke depan penerbitannya akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas nasional.

"Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," kata Erwin dikutip Antara.

Tak hanya fokus pada stabilitas, Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diarahkan untuk meningkatkan pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas.

Melalui kebijakan tersebut, BI juga memperkuat mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar penyaluran pembiayaan kepada dunia usaha menjadi lebih efektif dan mampu mendorong aktivitas ekonomi nasional.

Selain itu, transformasi digital di sektor sistem pembayaran terus dipercepat. Digitalisasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas inklusi keuangan, serta menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang masih berlangsung.

Dengan kombinasi kebijakan moneter, penguatan likuiditas, serta akselerasi digitalisasi sistem pembayaran, Bank Indonesia optimistis stabilitas ekonomi nasional dapat terus terjaga sekaligus menjadi landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru