Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. ANTARA/Rizka Khaerunnisa/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kinerja penjualan eceran Indonesia mulai menunjukkan perbaikan pada Juni 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan ritel masih berada di zona kontraksi secara tahunan, tetapi tekanannya mulai berkurang dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) Juni 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 225 atau terkontraksi 3 persen secara tahunan (yoy).
Meski masih minus, angka tersebut membaik dibandingkan Mei 2026 yang mengalami kontraksi sebesar 3,9 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, sejumlah kelompok barang masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif dan menopang kinerja penjualan eceran nasional.
“Kinerja tersebut ditopang oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Barang Lainnya,” kata Ramdan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Suku Cadang Jadi Penopang Penjualan Eceran
Jika dilihat berdasarkan kelompok komoditas, Suku Cadang dan Aksesori menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan paling kuat. Penjualannya tumbuh 18,8 persen (yoy).
Sementara itu, penjualan Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya tumbuh 2,8 persen (yoy), sedangkan kelompok Barang Lainnya masih mampu tumbuh 1,1 persen (yoy).
Di sisi lain, beberapa kelompok barang masih mengalami kontraksi, meskipun kinerjanya mulai membaik dibandingkan bulan sebelumnya.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, misalnya, terkontraksi 3,6 persen (yoy) pada Juni 2026. Namun, kontraksi ini lebih rendah dibandingkan Mei yang mencapai 4,1 persen (yoy).
Subkelompok Sandang juga masih berada di zona negatif dengan kontraksi sebesar 3,1 persen (yoy).
Secara Bulanan, Penjualan Eceran Tumbuh
Sinyal perbaikan penjualan eceran terlihat lebih jelas jika dibandingkan secara bulanan.
Pada Juni 2026, penjualan eceran tumbuh 0,7 persen (mtm). Capaian ini berbalik positif setelah pada Mei 2026 penjualan eceran mengalami kontraksi sebesar 1,5 persen (mtm).
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan penjualan pada kelompok Barang Lainnya, Suku Cadang dan Aksesori, serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya.
Masing-masing kelompok mencatat pertumbuhan bulanan sebesar 6,9 persen, 3,7 persen, dan 2,8 persen (mtm).
Padahal, pada Mei 2026 ketiga kelompok tersebut masih mengalami kontraksi masing-masing sebesar 9,2 persen, 4,7 persen, dan 0,7 persen (mtm).
Perbaikan juga terlihat pada kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor serta Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang masing-masing tumbuh 3,5 persen dan 0,1 persen (mtm).
Menurut Ramdan, perkembangan tersebut tidak terlepas dari terjaganya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
“Perkembangan tersebut didorong oleh terjaganya permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah,” ujarnya.
BI Optimistis Penjualan Juli 2026 Keluar dari Kontraksi
Melihat perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 akan semakin membaik.
BI memprakirakan Indeks Penjualan Riil Juli 2026 tumbuh 0,9 persen (yoy) menjadi 224,4. Jika terealisasi, angka tersebut akan membawa penjualan eceran keluar dari zona kontraksi secara tahunan.
Perbaikan tersebut diperkirakan berasal dari beberapa kelompok utama.
Penjualan Makanan, Minuman, dan Tembakau diprakirakan tumbuh 1,6 persen (yoy). Sementara itu, Suku Cadang dan Aksesori diperkirakan tetap mencatat pertumbuhan positif sebesar 10,8 persen (yoy).
Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya juga diproyeksikan tumbuh 2,5 persen (yoy).
Penjualan Bulanan Juli Masih Berpotensi Tertekan
Meski prospek secara tahunan terlihat lebih positif, BI masih melihat adanya tekanan jika kinerja Juli 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Secara bulanan, penjualan eceran Juli 2026 diprakirakan mengalami kontraksi 0,3 persen (mtm).
Namun, angka tersebut masih lebih baik dibandingkan Juli 2025 yang mengalami kontraksi lebih dalam, yakni 4,1 persen (mtm).
BI memperkirakan Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dan Barang Budaya dan Rekreasi akan menjadi penopang utama kinerja penjualan pada Juli dikutip Antara.
Masing-masing kelompok tersebut diprakirakan tumbuh 9,5 persen dan 5,3 persen (mtm).
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan mulai masuknya periode sekolah pada Juli 2026, yang turut mendorong kebutuhan masyarakat terhadap berbagai perlengkapan rumah tangga serta barang budaya dan rekreasi.
Dengan perkembangan tersebut, data BI menunjukkan bahwa tekanan pada sektor penjualan eceran mulai mereda. Meskipun konsumsi belum sepenuhnya pulih secara tahunan, pertumbuhan bulanan dan proyeksi Juli memberikan sinyal bahwa aktivitas belanja masyarakat berpotensi kembali menguat.