IHSG dibuka menguat di tengah sikap wait and see investor menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia.. (RRI/Magdalena Krisnawati)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026) di tengah sikap pelaku pasar yang masih menunggu arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
IHSG naik 41,79 poin atau 0,67 persen ke level 6.273,57. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 ikut menguat 6,25 poin atau 1 persen menjadi 634,00.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dengan menguji area resistance di kisaran 6.250 hingga 6.300. Namun demikian, pelaku pasar tetap diminta mewaspadai aksi ambil untung (profit taking) yang berpotensi muncul setelah kenaikan dalam beberapa sesi terakhir.
Baca juga:
IHSG Melesat 1,59 Persen, Pasar Sambut Positif Target Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi 2027Pasar Menunggu Keputusan BI Rate
Fokus utama investor saat ini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026. Salah satu keputusan yang paling dinantikan adalah arah BI Rate yang saat ini berada di level 5,75 persen setelah dinaikkan tiga kali sepanjang tahun ini dengan total 100 basis poin.
Baca juga:
IHSG Melesat 1,59 Persen, Pasar Sambut Positif Target Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi 2027Keputusan tersebut dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan, termasuk pasar saham, dalam jangka pendek.
Penyaluran Kredit Menguat, Ekonomi Masih Ekspansif
Di sisi lain, data Survei Perbankan Bank Indonesia memberikan sinyal positif terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru melonjak menjadi 93,08 persen pada kuartal II 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 38,74 persen pada kuartal I 2026 maupun 85,22 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Kredit modal kerja menjadi kontributor terbesar dengan SBT mencapai 94,34 persen, disusul kredit investasi sebesar 93,51 persen dan kredit konsumsi sebesar 83,67 persen.
Meski demikian, BI mencatat perbankan masih menerapkan standar pemberian kredit yang lebih ketat. Kondisi tersebut menunjukkan sektor perbankan tetap berhati-hati, meski permintaan pembiayaan dari dunia usaha dan masyarakat terus meningkat.
Sentimen Global Masih Membayangi
Dari luar negeri, pasar masih mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Walaupun sempat muncul harapan penyelesaian diplomatik, ketegangan geopolitik tetap menjadi sumber ketidakpastian bagi investor global. Selain itu, kekhawatiran terhadap tingginya valuasi saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) juga masih membebani sentimen pasar.
Ratna Lim mengatakan apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, inflasi di Amerika Serikat berpotensi kembali meningkat sehingga membuka peluang Bank Sentral AS (The Fed) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
China Pertahankan Suku Bunga
Sementara itu, Bank Sentral China (PBoC) memutuskan mempertahankan suku bunga pinjaman utama di level terendah sepanjang sejarah, yakni 3 persen untuk tenor satu tahun dan 3,5 persen untuk tenor lima tahun.
Langkah tersebut menunjukkan sikap hati-hati otoritas moneter China meski pertumbuhan ekonomi negara itu mulai melambat pada kuartal II 2026 dikutip Antara.
Bursa Global Bergerak Variatif
Perdagangan di pasar global juga masih menunjukkan arah yang beragam.
Bursa Eropa ditutup variatif pada Senin (20/7/2026), sementara Wall Street kompak melemah dengan penurunan pada indeks S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average.
Di kawasan Asia pada perdagangan pagi Selasa, pergerakan indeks saham juga cenderung beragam, mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati menghadapi berbagai sentimen global maupun kebijakan bank sentral.