Pekerja menyelesaikan proyek jalur kereta api di Medan, Sumatera Utara, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Yudi Manar/foc
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia masih menunjukkan daya tariknya sebagai tujuan investasi. Sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, arus modal asing tercatat tetap positif dengan nilai mencapai sekitar 5,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Data dari Permata Institute for Economic Research (PIER) mengungkapkan bahwa aliran dana tersebut didominasi oleh instrumen keuangan jangka pendek. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi magnet utama dengan inflow mencapai 9,4 miliar dolar AS. Sementara itu, pasar obligasi mencatatkan tambahan dana sekitar 610 juta dolar AS.
Di sisi lain, pasar saham justru mengalami tekanan. Investor asing menarik dana sekitar 4,12 miliar dolar AS dari bursa saham, mencerminkan kehati-hatian terhadap investasi jangka panjang.
“Aliran dana masih banyak masuk ke instrumen jangka pendek seperti SRBI. Sedangkan di pasar saham, yang mencerminkan investasi jangka panjang, masih terjadi outflow,” ujar Josua dalam paparan economic review kuartal II-2026 di Jakarta.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investor global masih melihat Indonesia sebagai tempat yang menarik, namun dengan strategi yang lebih selektif. Instrumen yang relatif aman dan likuid menjadi pilihan utama di tengah dinamika global yang belum stabil.
Menariknya, tren pemulihan mulai terlihat sejak Juni 2026. Meredanya ketegangan geopolitik serta adanya sinyal positif dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.
Meski demikian, faktor domestik tetap menjadi kunci. Kepastian kebijakan pemerintah dinilai sangat penting untuk mengembalikan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham. Selain itu, perkembangan terkait indeks global seperti MSCI juga menjadi perhatian serius para pelaku pasar.
Di pasar obligasi, ketahanan terlihat dari semakin beragamnya basis investor. Meski kepemilikan perbankan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) turun sekitar Rp257 triliun, investor asing justru menambah kepemilikan sekitar Rp18 triliun. Bank Indonesia bahkan meningkatkan kepemilikannya hingga Rp98 triliun, disusul asuransi dan dana pensiun yang bertambah sekitar Rp143 triliun.
Secara keseluruhan, total kepemilikan SBN naik signifikan sebesar Rp414 triliun menjadi Rp6.983 triliun. Hal ini menunjukkan pasar surat utang Indonesia semakin kuat dan didukung oleh berbagai jenis investor dikutip Antara.
Namun, ada catatan penting. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik hingga 121 basis poin menjadi 7,28 persen—salah satu kenaikan tertinggi di kawasan Asia. Kenaikan ini mencerminkan tekanan sekaligus peluang bagi investor yang mencari yield lebih tinggi.
Dari sisi likuiditas, perbankan juga meningkatkan penempatan dana di instrumen Bank Indonesia, terutama SRBI, yang naik sekitar Rp368 triliun hingga awal Agustus 2026. Ini menandakan instrumen domestik masih menjadi pilihan utama untuk pengelolaan dana.
Kesimpulannya, meski pasar keuangan global masih bergejolak, Indonesia tetap memiliki peluang investasi yang menjanjikan. Investor hanya perlu lebih jeli membaca peluang, karena sejumlah sektor dan instrumen masih menawarkan prospek menarik sesuai dengan profil risiko masing-masing.