Senin, 10 Agustus 2026

Ekonomi RI Tetap Tangguh, Konsumsi Domestik Jadi Penopang di Tengah Tekanan Global


 Ekonomi RI Tetap Tangguh, Konsumsi Domestik Jadi Penopang di Tengah Tekanan Global Tangkapan layar Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede dalam pemaparan Permata Institute for Economic Research (PIER) mengenai ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 (2Q26) yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (10/8/2026). (ANTARA/Fitra Ashari)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah tekanan ekonomi global yang kian terasa, Indonesia dinilai masih mampu bertahan. Kuncinya ada pada satu hal: kekuatan konsumsi domestik.

Permata Institute for Economic Research (PIER) menilai, ekonomi Indonesia perlu semakin bertumpu pada permintaan dalam negeri, terutama belanja masyarakat. Ini menjadi strategi penting ketika pasar global sedang tidak bersahabat.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa berbagai lembaga internasional memang memproyeksikan perlambatan ekonomi global tahun ini. Namun, Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang cukup kuat.

“Kalau lembaga global melihat ekonomi Indonesia masih resilien, itu artinya banyak ditopang oleh kekuatan domestik,” ujarnya dalam pemaparan ekonomi kuartal II 2026.

Konsumsi Tetap Jadi Motor Utama

PIER mencatat, konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026. Meski sedikit melambat dari 5,52% menjadi 5,06% (year-on-year), posisinya belum tergantikan.

Penurunan ini dinilai wajar karena adanya normalisasi belanja setelah momentum Lebaran.

Di sisi lain, investasi mulai menunjukkan peran yang semakin kuat. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh dari 5,96% menjadi 6,87%. Artinya, aktivitas investasi mulai bergerak lebih agresif.

Namun demikian, investasi belum mampu menggantikan dominasi konsumsi sebagai penopang utama ekonomi.

Dunia Lesu, RI Perlu Andalkan Dalam Negeri

Tekanan dari luar negeri masih membayangi. Mulai dari perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga perang dagang yang belum mereda.

Tak hanya itu, perlambatan ekonomi China juga menjadi perhatian serius, mengingat eratnya hubungan perdagangan dengan Indonesia.

Kondisi ini membuat kontribusi ekspor diperkirakan akan terbatas.

“Dorongan dari pasar eksternal kemungkinan tidak akan maksimal, sehingga kita perlu lebih fokus pada kekuatan domestik,” kata Josua dikutip Antara.

Industri Masih Ekspansi, Tapi Perlu Waspada

Meski tantangan global meningkat, sektor industri dalam negeri masih menunjukkan sinyal positif. Indeks PMI manufaktur tetap berada di atas level 50, yang berarti aktivitas industri masih berada di zona ekspansi.

Namun, penguatan ke depan tetap perlu dijaga agar tidak kehilangan momentum.

Ancaman Inflasi dari Harga Energi

Selain tekanan global, kenaikan harga energi sejak Maret 2026 juga menjadi perhatian. Kenaikan ini berpotensi mendorong inflasi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Dampaknya bisa meluas—mulai dari naiknya biaya transportasi hingga produksi, yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan, kondisi ini bisa menekan daya beli masyarakat.

Jaga Daya Beli, Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan

Dalam situasi seperti ini, menjaga daya beli masyarakat menjadi krusial. Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada konsumsi, tetapi juga mendorong investasi dan menciptakan lapangan kerja.

Tujuannya jelas: memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan dan tidak bergantung pada satu sumber saja.

Dengan kombinasi konsumsi yang kuat dan investasi yang terus tumbuh, ekonomi Indonesia memiliki peluang besar untuk tetap stabil—bahkan di tengah ketidakpastian global.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru