IHSG Melemah di Tengah Memanasnya Tensi AS-Iran, Investor Pilih Sikap Hati-Hati


 IHSG Melemah di Tengah Memanasnya Tensi AS-Iran, Investor Pilih Sikap Hati-Hati Ilustrasi - Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan Kamis (11/6/2026).

Pelemahan ini dinilai dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian investor akibat memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah sejumlah sentimen domestik yang masih membayangi pasar.

Hingga pukul 15.00 WIB, IHSG tercatat turun 27,98 poin atau 0,47 persen ke level 5.874,38.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG saat ini berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko atau menerapkan strategi risk-off setelah konflik geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat.

Menurutnya, ketidakpastian yang muncul dari hubungan AS dan Iran membuat pelaku pasar lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi.

"Pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik yang kembali memanas sehingga mendorong sebagian investor mengambil sikap lebih defensif," ujarnya di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Selain isu geopolitik, investor global juga tengah menunggu sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan dunia. Salah satunya adalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juni 2026.

Keputusan suku bunga yang dihasilkan dalam rapat tersebut diperkirakan akan memengaruhi arus modal global, termasuk ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Faktor Domestik Masih Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sejumlah isu yang dinilai dapat memengaruhi sentimen investasi dalam jangka pendek. Salah satunya adalah rencana aksi demonstrasi besar yang memicu sikap lebih hati-hati dari sebagian investor.

Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih menjadi perhatian pasar. Sebagian investor menilai langkah-langkah yang telah ditempuh pemerintah dan otoritas keuangan untuk menjaga stabilitas rupiah belum sepenuhnya mampu mengembalikan kepercayaan pasar.

Akibatnya, sentimen terhadap aset domestik masih cenderung berhati-hati, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Agenda Penting yang Dinanti Pasar

Dalam dua pekan mendatang, investor diperkirakan akan terus mencermati sejumlah agenda strategis yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.

Beberapa agenda tersebut antara lain:

MSCI Accessibility Review pada 18 Juni 2026

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dan keputusan BI Rate pada 18–19 Juni 2026

MSCI Market Classification Review pada 23 Juni 2026

Agenda-agenda tersebut menjadi perhatian khusus investor asing karena berkaitan dengan daya tarik pasar modal Indonesia di mata global.

IHSG Masih Berpotensi Konsolidasi

Meski mengalami tekanan, Elandry menilai koreksi yang terjadi saat ini masih dapat dikategorikan sebagai fase konsolidasi selama IHSG mampu bertahan di area psikologis tertentu.

Ia menekankan bahwa pasar masih membutuhkan kejelasan dari berbagai agenda ekonomi dan kebijakan yang akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

"Volatilitas diperkirakan masih tinggi sampai pasar memperoleh kepastian dari berbagai agenda penting tersebut," katanya.

Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Dari perkembangan internasional, situasi Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar global. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan baru terhadap Iran atas instruksi Presiden AS Donald Trump.

Trump juga memperingatkan Iran agar segera menyepakati perdamaian dan menegaskan bahwa Teheran akan menghadapi konsekuensi jika terus menunda kesepakatan.

Di sisi lain, Iran menyatakan siap merespons setiap ancaman maupun serangan yang diterimanya.

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis (11/6/2026). Jalur laut strategis tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Data Perdagangan

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 15.00 WIB, frekuensi perdagangan saham mencapai 2,01 juta transaksi.

Sebanyak 27,84 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp17,37 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, tercatat 231 saham menguat, 446 saham melemah, dan 137 saham bergerak stagnan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru