Loading
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Pelemahan indeks dipicu aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor menjelang libur dan cuti bersama Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Pada penutupan perdagangan sore, IHSG turun 76,16 poin atau 1,23 persen ke level 6.130,19. Sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga ikut terkoreksi 10,81 poin atau 1,71 persen ke posisi 620,40.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan, tekanan terhadap IHSG datang dari kombinasi faktor domestik dan global. Selain aksi ambil untung menjelang libur panjang, pasar juga dipengaruhi proses rebalancing MSCI yang biasanya membuat investor melakukan penyesuaian portofolio.
“Pemicu pelemahan indeks antara lain karena profit taking menjelang libur dan rebalancing MSCI,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Dari sisi global, pasar turut mencermati meningkatnya tensi geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terbaru ke wilayah Iran Selatan. Serangan tersebut dikabarkan menyasar lokasi rudal Iran dan kapal-kapal yang diduga hendak memasang ranjau laut.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru di tengah harapan pasar terhadap terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Sentimen tersebut ikut menekan pergerakan bursa saham di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di pasar mata uang, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan sebesar 0,29 persen ke level Rp17.795 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini terjadi meskipun indeks dolar AS tercatat melemah.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia bergerak bervariasi. Minyak Brent menguat 1,97 persen, sedangkan minyak mentah WTI justru turun 4,97 persen.
Ratna memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan kisaran level 6.000 hingga 6.200.
Sejak awal perdagangan, IHSG memang sudah dibuka melemah dan bertahan di area negatif hingga akhir sesi pertama. Memasuki sesi kedua, tekanan jual masih mendominasi sehingga indeks gagal keluar dari zona merah sampai penutupan perdagangan.
Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, hanya sektor infrastruktur yang mampu mencatat penguatan sebesar 0,28 persen.
Sebaliknya, sebagian besar sektor lainnya mengalami tekanan. Sektor industri menjadi yang paling dalam melemah hingga 3,66 persen. Disusul sektor properti yang turun 2,30 persen dan sektor barang konsumen non-primer yang terkoreksi 2,27 persen.
Di jajaran saham, beberapa emiten yang mencatat kenaikan tertinggi antara lain MGNA, ARTA, NZIA, ELFI, dan AWAN. Sedangkan saham dengan pelemahan terbesar ditempati oleh MSIN, RISE, TALF, BHAT, dan ASPR.
Aktivitas perdagangan saham tercatat cukup ramai. Frekuensi transaksi mencapai 1,96 juta kali dengan total 24,88 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp18,09 triliun dikutip Antara.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 241 saham menguat, 447 saham melemah, dan 133 saham stagnan.
Bursa saham Asia juga mayoritas ditutup melemah. Indeks Nikkei turun 0,29 persen, Shanghai melemah 0,17 persen, dan Hang Seng terkoreksi tipis 0,03 persen. Sementara itu, indeks Straits Times Singapura menjadi salah satu yang masih mampu menguat sebesar 0,82 persen.