Airlangga Optimistis Indonesia Tetap Jadi Magnet Investasi di Tengah Gejolak Global


 Airlangga Optimistis Indonesia Tetap Jadi Magnet Investasi di Tengah Gejolak Global Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik memang membuat banyak investor lebih berhati-hati dalam menempatkan modalnya. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di kawasan Asia Pasifik.

Menurut Airlangga, meskipun kondisi ekonomi dunia masih dibayangi berbagai ketegangan, kawasan Indo-Pasifik tetap dipandang sebagai wilayah yang relatif aman dan menjanjikan bagi para investor. Saat ini, perhatian dunia juga tertuju pada peluang terciptanya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian global.

“Perdamaian selalu memberikan hasil positif terhadap prospek ekonomi global dan juga memperbaiki rantai pasok dunia. Dua hal tersebut sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN yang masih berada di atas 4 persen menjadi salah satu faktor utama yang menjaga optimisme pelaku usaha. Selain itu, stabilitas kawasan yang didukung oleh negara-negara besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru turut memperkuat kepercayaan investor terhadap kawasan ini.

Optimisme tersebut juga tercermin dari kinerja sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia. Airlangga mengungkapkan bahwa tingkat keterisian berbagai KEK saat ini cukup tinggi. Bahkan, beberapa kawasan tengah mempersiapkan ekspansi guna mengakomodasi pergeseran rantai pasok global atau global supply chain realignment yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk menjaga momentum investasi, pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Langkah ini dilakukan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk menjaga nilai tukar rupiah agar tetap kompetitif dan menarik bagi investor.

Menurut Airlangga, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia selama ini berjalan sangat baik. Stabilitas instrumen keuangan berbasis rupiah diharapkan mampu menekan risiko arus modal keluar (capital outflow) sekaligus mendukung masuknya investasi berkualitas ke Indonesia.

“Kerja sama antara fiskal dan moneter ini sudah sangat baik karena kami secara reguler bertemu dan memonitor dana pihak ketiga di perbankan, penyaluran kredit, serta likuiditas pasar yang sangat diperlukan,” katanya dikutip Antara.

Selain memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri, pemerintah juga terus membuka peluang investasi melalui berbagai kerja sama ekonomi internasional. Salah satu langkah strategis yang tengah ditempuh adalah proses aksesi Indonesia ke Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Keanggotaan OECD diyakini akan memberikan manfaat besar bagi Indonesia, mulai dari peningkatan kualitas regulasi nasional, penguatan kepercayaan investor, hingga akses yang lebih luas ke pasar global dengan nilai ekonomi mencapai sekitar 64 triliun dolar AS.

Dengan kombinasi stabilitas ekonomi, pertumbuhan kawasan yang kuat, serta perluasan kerja sama internasional, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus menjadi salah satu destinasi investasi unggulan di tengah dinamika ekonomi dunia yang masih penuh tantangan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru