Menteri Keuangan Suahasil Nazara berpartisipasi dalam The 57th Joint Governors Meeting di Bangkok, Thailand, Rabu (14/10/2026). (Kementerian Keuangan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia mendorong penguatan peran modal swasta dalam pembiayaan pembangunan multilateral guna memperluas investasi produktif, mempercepat pelaksanaan program pembangunan, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Upaya ini menjadi bagian dari strategi Indonesia memperkuat kerja sama dengan Grup Bank Dunia atau World Bank Group.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam The 57th Joint Governors Meeting di Bangkok, Thailand. Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan pentingnya pembiayaan pembangunan yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan kapasitas masing-masing negara.
“Bagi Indonesia, prioritasnya sudah jelas, pembiayaan yang menarik investasi produktif, implementasi yang menghasilkan lapangan kerja berkualitas, serta kemitraan yang terus berkembang seiring dengan kebutuhan negara,” ujar Suahasil, sebagaimana dikutip dari keterangan pers di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Menurut Suahasil, kerja sama pembangunan internasional perlu diarahkan pada hasil yang nyata. Pembiayaan tidak cukup hanya tersedia, tetapi harus mampu mendorong kegiatan ekonomi, memperkuat kapasitas produktif, dan membuka peluang kerja bagi masyarakat.
Tiga Prioritas Indonesia dalam Kerja Sama Pembangunan
Dalam forum tersebut, Indonesia menggarisbawahi tiga prioritas utama untuk memperkuat kerja sama pembangunan dengan Grup Bank Dunia.
Prioritas pertama adalah mendorong mobilisasi modal swasta melalui skema pembiayaan yang terjangkau. Langkah ini diharapkan dapat memperluas sumber pendanaan bagi investasi produktif, sehingga pembangunan tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah atau pembiayaan dari lembaga multilateral.
Keterlibatan investor swasta menjadi penting karena kebutuhan pendanaan pembangunan mencakup berbagai sektor, mulai dari infrastruktur dan energi hingga kegiatan usaha yang mampu menyerap tenaga kerja.
Arah kebijakan ini juga sejalan dengan strategi Grup Bank Dunia yang semakin menekankan pemanfaatan modal swasta untuk mendukung pembangunan di negara berkembang. Dalam laporan tahun fiskal 2026, Grup Bank Dunia menyebutkan bahwa mobilisasi modal swasta mencapai rekor 112 miliar dolar AS, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 35 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2022.
Informasi tersebut menunjukkan semakin besarnya peran pembiayaan swasta dalam mendukung agenda pembangunan global. Namun, manfaatnya bergantung pada kemampuan mengarahkan investasi ke sektor-sektor produktif yang memberikan dampak ekonomi dan sosial.
Percepatan Program Menjadi Kunci
Prioritas kedua adalah mempercepat proses persetujuan dan pelaksanaan program pembangunan melalui penguatan kerja sama dengan Grup Bank Dunia.
Bagi negara penerima dukungan pembangunan, kecepatan implementasi menjadi faktor penting. Program yang telah direncanakan perlu segera diterjemahkan menjadi kegiatan nyata agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dan dunia usaha.
Proses yang lebih efektif juga diperlukan untuk mengurangi jeda antara persetujuan pembiayaan dan pelaksanaan proyek. Dengan demikian, sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mendukung pembangunan dan penciptaan lapangan kerja.
Dalam konteks ini, penguatan kemitraan antara pemerintah dan lembaga pembiayaan multilateral diharapkan dapat membantu memastikan bahwa program pembangunan berjalan sesuai kebutuhan nasional.
Indonesia menempatkan penciptaan lapangan kerja berkualitas sebagai salah satu hasil penting yang harus dicapai. Artinya, keberhasilan kerja sama pembangunan tidak hanya dilihat dari besarnya dana yang berhasil dihimpun, tetapi juga dari dampaknya terhadap kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan Pembiayaan Harus Memperhatikan Kebutuhan Negara
Prioritas ketiga berkaitan dengan kebijakan graduation, yakni transisi status kelayakan suatu negara untuk memperoleh dukungan pembiayaan tertentu dari lembaga pembangunan multilateral.
Indonesia menekankan agar kebijakan tersebut tetap mempertimbangkan country ownership, yaitu kepemilikan dan kendali negara atas prioritas pembangunannya sendiri, serta kesinambungan dukungan pembangunan.
Pendekatan ini penting karena setiap negara memiliki kondisi ekonomi, kapasitas fiskal, dan kebutuhan pembangunan yang berbeda. Perubahan status kelayakan pembiayaan karena itu perlu memperhatikan kesiapan negara dalam mempertahankan program pembangunan yang sedang berjalan.
Dukungan multilateral yang sesuai dengan kebutuhan nasional dapat membantu negara menjaga kesinambungan pembangunan sekaligus memperkuat kemampuan membiayai prioritasnya secara mandiri.
Bagi Indonesia, kemitraan pembangunan diharapkan tetap adaptif terhadap perubahan kebutuhan dan tidak semata-mata bertumpu pada pendekatan yang seragam bagi seluruh negara.
Perubahan Iklim dan Bencana Masuk Agenda Pembangunan
Selain pembiayaan dan percepatan program, Indonesia turut menyoroti pentingnya memasukkan risiko perubahan iklim dan bencana alam ke dalam agenda kerja sama pembangunan.
Suahasil menekankan bahwa aksi iklim dan kesiapsiagaan menghadapi krisis perlu dirancang secara praktis dengan mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan masing-masing negara.
Pendekatan country-driven tersebut menempatkan negara sebagai pihak yang menentukan prioritas berdasarkan tantangan dan kapasitasnya. Dengan cara ini, kebijakan iklim diharapkan tidak terpisah dari agenda pembangunan ekonomi, melainkan menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.
Indonesia juga mendukung implementasi Perjanjian Paris atau Paris Agreement serta berbagai langkah adaptasi perubahan iklim yang sejalan dengan penguatan ketahanan energi, keterjangkauan biaya, daya saing ekonomi, dan kesinambungan fiskal.
Keseimbangan tersebut menjadi penting karena kebijakan iklim perlu memperhitungkan kebutuhan energi, kemampuan masyarakat dan dunia usaha dalam menanggung biaya, serta kemampuan pemerintah menjaga kesehatan anggaran negara.
Grup Bank Dunia sendiri telah menempatkan keselarasan pembiayaan dengan tujuan Perjanjian Paris sebagai bagian dari pendekatan pembangunan dan ketahanan iklim. Lembaga tersebut juga menekankan pentingnya memperhitungkan risiko iklim dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek.
Informasi mengenai pendekatan tersebut dapat dilihat melalui laman resmi Grup Bank Dunia tentang Paris Alignment.
Mengarahkan Pembiayaan pada Dampak Nyata
Dorongan Indonesia untuk memobilisasi modal swasta memperlihatkan pentingnya memperluas sumber pendanaan sekaligus memastikan efektivitas penggunaannya.
Pembiayaan multilateral dan investasi swasta dapat saling melengkapi. Dukungan lembaga pembangunan dapat membantu membuka peluang investasi, sementara keterlibatan investor swasta memperluas kapasitas pendanaan untuk proyek-proyek produktif.
Meski demikian, keberhasilan pendekatan ini tetap bergantung pada kualitas proyek, kesiapan pelaksanaan, pengelolaan risiko, dan kesesuaiannya dengan prioritas pembangunan nasional.
Karena itu, Indonesia mendorong kemitraan pembangunan yang lebih responsif, proses pelaksanaan yang lebih cepat, serta kebijakan pembiayaan yang memperhatikan kondisi masing-masing negara.
Melalui tiga prioritas tersebut, Indonesia berharap kerja sama dengan Grup Bank Dunia dapat memberikan manfaat yang lebih konkret, mulai dari peningkatan investasi produktif hingga penciptaan lapangan kerja berkualitas, sembari menjaga ketahanan ekonomi dan kesinambungan fiskal di tengah tantangan global.