Loading
Electronita Duan (tengah) saat menerima penghargaan perdamaian N-PEACE, dari Badan PBB untuk Program Pembangunan (UNDP)di Bangkok, Thailand, Rabu (19/10/2011). (Foto: UNDP)
GLOBAL HARMONY | HARMONY LEADERS
DI WILAYAH timur Indonesia, di pulau-pulau yang pernah dilanda konflik dan keterasingan, nama Electronita Duan dikenal bukan karena sorotan media, melainkan karena kehadiran yang konsisten. Ia tidak datang membawa janji besar, tetapi tinggal—mendengar, bekerja, dan membangun kembali kepercayaan yang sempat runtuh.
Bagi Electronita, perdamaian bukan slogan. Ia adalah proses panjang pemulihan manusia, terutama mereka yang paling terdampak konflik: perempuan, anak muda, dan komunitas lokal.
Dari Luka Sosial Menuju Kerja Rekonsiliasi
Konflik komunal yang melanda Maluku Utara dan Halmahera pada akhir 1990-an meninggalkan trauma mendalam. Rumah hancur, sekolah terhenti, dan relasi sosial terkoyak. Dalam situasi itu, Electronita Duan memilih untuk tidak pergi.
Ia menyadari bahwa setelah konflik mereda, yang tersisa adalah kehampaan struktural: generasi muda kehilangan akses pendidikan, perempuan kehilangan ruang aman, dan komunitas kehilangan arah.
Dari kesadaran itulah ia memulai kerja-kerja rekonsiliasi—pelan, nyaris tak terlihat, namun berakar kuat.
Pendidikan sebagai Jalan Perdamaian
Salah satu kontribusi terpenting Electronita adalah keterlibatannya dalam pendirian Politeknik Halmahera, sebuah inisiatif pendidikan yang memberi kesempatan bagi anak-anak muda korban konflik untuk kembali belajar dan membangun masa depan.
Bagi Electronita, pendidikan bukan hanya soal keterampilan kerja. Ia adalah alat pemulihan martabat. Dengan pendidikan, anak muda tidak lagi diposisikan sebagai “korban konflik”, melainkan sebagai subjek yang mampu menentukan hidupnya sendiri.
Di ruang-ruang kelas sederhana itulah, perdamaian mulai menemukan bentuk nyatanya.
Perempuan dan Perdamaian yang Inklusif
Sebagai aktivis perempuan, Electronita memahami bahwa konflik selalu memiliki wajah gender. Perempuan sering menjadi pihak paling terdampak, namun paling jarang dilibatkan dalam proses pemulihan.
Melalui jejaring organisasi perdamaian regional dan internasional, ia mendorong keterlibatan perempuan dalam dialog lintas komunitas, pengambilan keputusan lokal, dan program pemulihan pasca konflik.
Pendekatannya sederhana namun radikal: perdamaian tidak akan berkelanjutan jika separuh suara masyarakat diabaikan.
Kerja Sunyi, Pengakuan Global
Kerja Electronita sebagian besar berlangsung jauh dari pusat kekuasaan. Namun dunia mencatat kontribusinya. Ia menerima N-Peace Award, sebuah penghargaan internasional bagi perempuan yang berkontribusi signifikan dalam pembangunan perdamaian dan pencegahan konflik.
Penghargaan itu bukan penutup perjalanan, melainkan pengingat bahwa kerja lokal di daerah terpencil memiliki resonansi global.
Mengapa Electronita Duan adalah Harmony Leader
Electronita Duan mewakili wajah lain kepemimpinan perdamaian—tenang, konsisten, dan berjangka panjang. Ia menunjukkan bahwa:
Dalam lanskap global yang sering mengagungkan solusi instan, Electronita memilih jalan berbeda: tinggal, membangun, dan merawat.
Perdamaian yang Bertahan Lama
Di Halmahera, perdamaian tidak datang sebagai peristiwa tunggal. Ia hadir sebagai kehadiran manusia yang setia—seperti yang ditunjukkan Electronita Duan.Melalui pendidikan, dialog, dan keberpihakan pada komunitas, ia membuktikan bahwa perdamaian sejati tidak selalu terdengar nyaring, tetapi terasa dalam keberlanjutan hidup orang-orang yang pernah kehilangan segalanya.
Dan dari pulau-pulau timur Indonesia, kisahnya mengirim pesan universal: bahwa dunia yang lebih damai selalu dimulai dari keberanian untuk tetap tinggal dan peduli. (Diolah dari berbagai sumber)