Energi Hijau Ubah Wajah Pulau Saugi, Pangkep Jadi Lebih Terang dan Mandiri


 Energi Hijau Ubah Wajah Pulau Saugi, Pangkep Jadi Lebih Terang dan Mandiri Suasana Pulau Saugi di Kecamatan Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, yang kini warganya sudah menikmati energi listrik ramah lingkungan dariPLTS mikro (SuperSUN) program PT PTN (Persero) maupun dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) . ANTARA/ Suriani Mappong

PANGKEP, ARAHKITA.COM – Saat matahari pagi mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur, suasana Dermaga Maccini Baji, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), mulai ramai. Para penumpang bersiap naik ke kapal kayu tradisional “jolloro” dan feri yang menghubungkan pulau-pulau kecil di gugusan Kepulauan Spermonde.

Salah satu tujuan favorit kapal hari itu adalah Pulau Saugi, pulau mungil seluas 38 ribu meter persegi yang menjadi rumah bagi sekitar 400 jiwa. Meski kecil, pulau ini kini dikenal sebagai contoh nyata transformasi energi hijau di Sulawesi Selatan.

Dari Lampu Minyak ke Tenaga Surya

Sebelum 2018, malam di Pulau Saugi terasa gelap. Warga hanya mengandalkan lampu minyak atau genset diesel yang beroperasi beberapa jam saja setiap malam. Akibatnya, aktivitas warga sangat terbatas—anak-anak kesulitan belajar, nelayan tak bisa memperbaiki jaring, dan ibu rumah tangga tak dapat melanjutkan pekerjaan setelah senja.

Namun semuanya berubah ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 kWp ke pulau ini. Sejak saat itu, listrik menyala dari pukul 18.00 hingga 06.00, menerangi setiap sudut rumah dan membuka peluang baru bagi masyarakat.

“Sebelumnya kami hanya pakai lampu minyak. Sekarang anak-anak bisa belajar malam, kami pun bisa memperbaiki jaring ikan tanpa khawatir gelap,” ujar Muh Yusman, warga Pulau Saugi.

Cahaya yang Mengubah Kehidupan

Program energi surya tak hanya menghadirkan penerangan, tapi juga mengubah pola hidup warga Pulau Saugi. Dengan tarif iuran perawatan hanya sekitar Rp20 ribu per bulan, jauh lebih hemat dibanding listrik diesel yang mencapai Rp120 ribu per bulan, masyarakat kini bisa menikmati listrik hingga 12 jam setiap malam.

Perubahan paling terasa terjadi pada sektor pendidikan. Anak-anak kini lebih bersemangat belajar dan melanjutkan sekolah. Ketua Badan Perwakilan Desa Mattiro Baji, Muh Anas, menuturkan, “Dulu banyak anak yang memilih ikut melaut, sekarang mereka lebih fokus sekolah.”

Ibu-Ibu Nelayan Bangkit Lewat Industri Rumah Tangga

Kehadiran listrik juga menggerakkan ekonomi keluarga. Para ibu rumah tangga yang dulu hanya membantu mengeringkan ikan kini mulai mengembangkan usaha rumahan: membuat kue kering, keripik daun kelor, kerupuk kepiting, hingga kerajinan tangan dari cangkang kerang.

Rahmatia, salah satu warga, mengaku kini bisa menggunakan alat listrik seperti blender dan penggiling adonan berkat panel surya di atap rumahnya.

“Kami bisa produksi lebih cepat dan dapat penghasilan tambahan untuk sekolah anak-anak,” ujarnya dikutip Antara.

Diperkuat Program SuperSUN dari PLN

Transformasi Pulau Saugi semakin kuat sejak PT PLN (Persero) menghadirkan program SuperSUN (Surya Power Solusi untuk Negeri) — PLTS mini untuk rumah tangga dan fasilitas umum di wilayah terpencil. Program ini menjadi bukti nyata hadirnya negara hingga ke pulau-pulau kecil.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mencatat hingga Agustus 2025, sudah 1.457 unit SuperSUN terpasang di Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat, serta 358 sekolah kini menikmati listrik bersih yang stabil.

Operator Lokal, Penjaga Cahaya Pulau

Di balik keberhasilan Pulau Saugi, ada dua operator lokal—Ilham dan Yusman—yang setiap hari memastikan ratusan panel surya tetap bersih dan berfungsi. Keduanya pernah mengikuti pelatihan ESDM di Ciracas, Jakarta, dan kini menjadi ujung tombak dalam menjaga suplai energi di pulau kecil itu.

Mereka sadar, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga bentuk pengabdian untuk masa depan Pulau Saugi yang lebih terang dan mandiri.

Menuju Pulau Mandiri Energi

Keberhasilan Saugi kini menjadi model pengembangan energi terbarukan di Pangkep. Kepala Bappelitbangda Kabupaten Pangkep, Iman Takbir, berharap pengelolaan PLTS bisa diperluas lewat kemitraan koperasi atau BUMDes, agar kapasitasnya meningkat dan manfaatnya berkelanjutan.

Pulau Saugi kini bukan sekadar titik kecil di peta. Ia menjadi simbol hadirnya negara melalui energi bersih, sekaligus bukti bahwa cahaya matahari tak hanya menerangi malam, tapi juga masa depan yang lebih sejahtera bagi seluruh warganya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru