Loading
Peluncuran balon raksasa karakter dari film “Pelangi di Mars” menyapa publik hadir di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan. (Antara)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Film fiksi ilmiah keluarga “Pelangi di Mars” mencuri perhatian warga ibu kota lewat instalasi balon karakter setinggi 10 meter di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan. Kehadiran balon karakter Pelangi dan Batik ini menjadi langkah awal memperkenalkan intellectual property (IP) lokal kepada masyarakat luas.
Balon raksasa tersebut berdiri di ruang terbuka area perkantoran dan bisa dinikmati publik mulai 19 hingga 22 Februari 2026, sebelum melanjutkan tur promosi ke sejumlah kota lain.
Produser film, Dendi Reynando, menegaskan pentingnya memperbanyak eksposur karya anak bangsa di ruang publik yang mudah dijangkau keluarga dan anak-anak.
“Jadi semakin sering terpapar, semakin bagus. Mudah-mudahan ini sebagai simbol dari IP Indonesia bisa compete dengan IP dari negara manapun karena memang semestinya kita sudah jadi tuan rumah untuk IP kita sendiri,” ujar Dendi dalam konferensi pers peluncuran balon raksasa di Jakarta, Kamis (19/1/2026).
Instalasi ini didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Artha Graha Peduli, SCBD, SCBD Park, dan Creative Event Entertainment (CEE). Kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata sinergi antara pelaku usaha dan industri kreatif dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional.
Menurut Dendi, dukungan lintas sektor menjadi fondasi penting agar IP lokal tidak berhenti pada satu karya saja, tetapi berkembang secara berkelanjutan.
“Kami ingin ini tidak berhenti di satu karya. ‘Pelangi di Mars’ kami siapkan sebagai IP lokal yang bisa tumbuh berkelanjutan,” tuturnya.
Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan daya saing industri kreatif Indonesia di tingkat global sekaligus membuka ruang apresiasi lebih luas bagi karya anak bangsa.
Film yang Menghidupkan Imajinasi Anak Indonesia
Sutradara Upie Guava menyebut film ini lahir dari keresahan pribadi sebagai orang tua. Ia ingin menghadirkan tontonan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga memantik imajinasi serta cita-cita anak Indonesia.
“Pendapat saya mungkin subjektif. Saya punya anak dan melihat sepertinya Indonesia kurang literasi yang memantik seorang anak ingin jadi bermanfaat, misal jadi astronaut apa pun itu. Film ‘Pelangi di Mars’ ini dibuat hanya dengan alasan itu dan mudah-mudahan ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,” kata Upie.
Kisah Petualangan di Tahun 2100
Film “Pelangi di Mars” mengambil latar tahun 2100, saat krisis air mengancam masa depan Bumi. Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars, memulai petualangan bersama robot-robot malfunction untuk mencari Zeolit Omega, mineral langka yang diyakini mampu menyelamatkan Bumi.
Namun perjalanan itu tidak mudah. Korporasi raksasa Nerotek yang menguasai sumber air berusaha merebut temuan tersebut demi kepentingannya sendiri. Konflik ini menghadirkan cerita sarat pesan tentang keberanian, persahabatan, dan harapan, dikemas lewat animasi 3D serta teknologi XR.
Film ini dibintangi Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata, dengan dukungan pengisi suara Kristo Immanuel, Bimoky, Gilang Dirga, Vanya Rivani, serta Dimitri Arditya.
Setelah Jakarta, balon “Pelangi di Mars” dijadwalkan mengunjungi lima lokasi lain sebagai bagian dari rangkaian promosi menuju penayangan film yang direncanakan hadir di bioskop seluruh Indonesia pada momen Lebaran 2026.