Loading
instalasi balon raksasa (giant balloon) film Pelangi di Mars di kawasan SCBD, Jakarta. (Kemenekraf)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, meresmikan instalasi balon raksasa (giant balloon) film Pelangi di Mars di kawasan SCBD, Jakarta. Kehadiran balon karakter Pelangi dan Robot Batik di SCBD Tunnel BEJ menjadi penanda optimisme terhadap karya film anak bangsa yang dijadwalkan tayang pada momen Lebaran 2026.
Dalam sambutannya, Irene menegaskan bahwa Pelangi di Mars bukan sekadar film, melainkan simbol kemajuan industri kreatif Indonesia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi dan kualitas produksi.
“Film Pelangi di Mars bukan hanya pencapaian perfilman Indonesia, tetapi juga bukti perkembangan teknologi yang memungkinkan dunia melihat mahakarya talenta kreatif anak bangsa. Kami bangga mendukung film ini karena menunjukkan lompatan besar dari sisi skala produksi dan kualitas visual,” ujar Irene.
Baca juga:
Wamenekraf: Konser F Forever Buktikan Indonesia Siap Jadi Tuan Rumah Pertunjukan Kelas DuniaFilm bergenre petualangan fiksi ilmiah ini mengusung teknologi Extended Reality (XR) untuk memperkaya pengalaman sinematik. Irene juga menyoroti pentingnya kolaborasi model hexahelix dalam mendorong kemajuan industri kreatif, termasuk dukungan dari Artha Graha Peduli bersama SCBD, SCBD Park, dan Creative Event Entertainment (CEE).
Ia sebelumnya meninjau DossGuavaXR Studio yang menjadi salah satu pusat produksi film tersebut. Menurutnya, keberadaan studio tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sebagai hidden gems industri kreatif Indonesia.
“Tanpa dukungan dan kolaborasi berbagai pihak dalam semangat hexahelix, akan sulit bagi Indonesia untuk melangkah maju. Pelangi di Mars mencerminkan gotong royong dan kekuatan IP Indonesia sebagai karya ramah anak yang relevan,” tambahnya.
Angkat Minimnya Film Anak dan Keluarga
Pelangi di Mars diproduseri oleh Dendi Reynando dan disutradarai Upie Guava dengan proses produksi hampir lima tahun. Film ini memadukan unsur live-action dan animasi, melibatkan sekitar 300 talenta kreatif Indonesia.
Sejumlah aktor yang tampil dalam adegan live-action antara lain Messi Gusti sebagai Pelangi, Lutesha sebagai Pratiwi, serta Rio Dewanto sebagai Banyu.
Sementara itu, karakter lima robot ikonik dihidupkan oleh para pengisi suara ternama seperti Bimoky (Robot Batik), Kristo Immanuel (Yoman), Gilang Dirga (Petya), Vanya Rivani (Kimchi), dan Dimitri Arditya (Sulil).
Produser Dendi Reynando mengungkapkan bahwa film ini lahir dari kegelisahan pribadi atas terbatasnya film anak dan keluarga di Indonesia.
“Film anak dan keluarga masih sangat terbatas di sinema Indonesia. Balon raksasa ini menjadi simbol bahwa Pelangi di Mars adalah cerita untuk semua orang. Harapannya, film ini bisa menjadi IP asli Indonesia yang membanggakan keluarga,” jelas Dendi.
Sutradara Upie Guava menambahkan bahwa proyek ini bukan hanya produksi film semata, melainkan gerakan kolektif untuk menghadirkan dongeng modern bagi anak-anak Indonesia.
“Film ini terasa seperti karya yang dilukis bersama. Energi kolaborasi yang besar membuatnya bukan sekadar film, tetapi gerakan menghadirkan imajinasi bagi anak-anak Indonesia,” ujarnya.
Sebelum peresmian balon raksasa, Wamen Ekraf juga mengunjungi Pasar Imlek Gang Depan SCBD yang menghadirkan 25 booth kuliner dengan nuansa budaya Tionghoa. Kehadiran pasar tematik tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional melalui kolaborasi lintas subsektor.
Dalam agenda tersebut, Irene didampingi Direktur Film, Animasi, dan Video Doni Setiawan. Turut hadir sejumlah tokoh, antara lain Tomy Winata, Christina Harapan, Arpin Wiradisastra, Josephine Sukmadewi, serta para pemeran dan pengisi suara film.
Film produksi Mahakarya Pictures ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momentum Lebaran. Pelangi di Mars diharapkan menjadi alternatif tontonan keluarga yang menghadirkan imajinasi, inspirasi teknologi, dan penguatan literasi cerita anak Indonesia.