Harga Pertamax Diprediksi Terus Turun sampai Desember 2026, Ini Perkiraannya


 Harga Pertamax Diprediksi Terus Turun sampai Desember 2026, Ini Perkiraannya Harga Pertamax Diprediksi Terus Turun sampai Desember 2026, Ini Perkiraannya. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kabar baik bagi pengguna kendaraan yang mengandalkan BBM nonsubsidi. Pakar ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, memproyeksikan harga Pertamax akan mengalami penurunan secara bertahap hingga akhir tahun 2026.

Saat ini harga Pertamax berada di kisaran Rp16.250 per liter. Namun, jika tren harga minyak mentah global dan nilai tukar rupiah bergerak sesuai perkiraan, harga BBM beroktan 92 tersebut berpotensi turun hingga kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026.

Menurut Yayan, sinyal penurunan harga BBM nonsubsidi sebenarnya sudah mulai terlihat. Beberapa produk seperti Dexlite dan Pertamina Dex lebih dulu mengalami penyesuaian harga.

“Ruang penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka. Dexlite dan Pertamina Dex sudah turun,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Proyeksi Harga Pertamax Juli–Desember 2026

Berdasarkan perhitungannya, harga Pertamax diperkirakan bergerak turun secara bertahap sebagai berikut:

  • Juli 2026: Rp15.228 per liter
  • Agustus 2026: Rp14.557 per liter
  • September 2026: Rp14.112 per liter
  • Oktober 2026: Rp13.814 per liter
  • November 2026: Rp13.614 per liter
  • Desember 2026: Rp13.479 per liter

Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa harga minyak mentah rata-rata Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) akan turun secara bertahap hingga mencapai sekitar 90,6 dolar AS per barel pada akhir tahun.

Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah dari sekitar Rp17.927 per dolar AS menjadi Rp16.959 per dolar AS juga diperkirakan turut membantu menekan harga BBM nonsubsidi.

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Faktor Penentu

Meski prospek penurunan harga cukup terbuka, Yayan mengingatkan bahwa situasi geopolitik global masih menjadi faktor yang perlu dicermati.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus memengaruhi sentimen pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melonjak hingga 117 dolar AS per barel pada April 2026 sebelum turun ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Namun optimisme tersebut tidak berlangsung lama. Pembatalan perundingan yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026 serta meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah membuat harga Brent kembali naik menembus level 80 dolar AS per barel.

Pergerakan harga minyak global ini secara langsung memengaruhi ICP yang menjadi salah satu dasar penentuan harga BBM nonsubsidi di Indonesia.

Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi ICP sebesar 70 dolar AS per barel. Namun menurut Yayan, pemerintah perlu menyiapkan berbagai simulasi kebijakan apabila harga minyak bergerak di luar perkiraan.

“Pemerintah perlu menyiapkan simulasi skenario ICP 70 hingga 90 dolar AS per barel karena tingkat ketidakpastian saat ini jauh lebih besar dibandingkan kesalahan statistik biasa,” katanya.

Fiskal Indonesia Dinilai Masih Cukup Kuat

Di tengah ketidakpastian global, Yayan menilai kondisi fiskal Indonesia masih memiliki ruang untuk menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk jika terjadi gangguan pasokan minyak akibat penutupan kembali Selat Hormuz.

Ia menjelaskan pemerintah masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun dengan target defisit APBN yang dijaga di kisaran 2,9 persen.

Jika rata-rata ICP berada pada level 90 dolar AS per barel, defisit anggaran diperkirakan melebar sekitar Rp136 triliun. Sementara apabila ICP naik hingga rata-rata 100 dolar AS per barel akibat gangguan pasokan global, pelebaran defisit bisa mencapai Rp204 triliun.

Meski demikian, angka tersebut masih berada dalam jangkauan bantalan fiskal yang dimiliki pemerintah.

“Artinya, SAL Rp420 triliun masih dapat menutup skenario penutupan ulang Selat Hormuz tanpa harus memangkas belanja negara. Namun ini lebih tepat disebut sebagai asuransi sekali pakai, bukan solusi jangka panjang,” ujar Yayan dikutip Antara.

Prospek Harga BBM Masih Bergantung pada Pasar Global

Dengan berbagai faktor yang ada, peluang turunnya harga Pertamax hingga akhir tahun tetap terbuka. Namun arah harga BBM masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga minyak dunia, serta kekuatan nilai tukar rupiah.

Jika ketiga faktor tersebut bergerak sesuai proyeksi, masyarakat berpotensi menikmati harga Pertamax yang lebih rendah menjelang akhir 2026.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru