Loading
Tampilan anggota BLACKPINK dalam acara Met Gala 2026 di New York, AS. (Instagram @metgalaofficial_)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Industri K-pop tengah mengalami perubahan besar, terutama pada konsep grup idola wanita. Jika sebelumnya banyak girl group identik dengan lagu ceria dan konsep imut, kini tren mulai bergeser ke musik techno dengan nuansa lebih gelap, agresif, dan penuh energi.
Perubahan itu dinilai bukan sekadar pergantian gaya musik biasa, melainkan strategi industri untuk tetap relevan di tengah cepatnya perubahan pola konsumsi hiburan global.
“K-Pop selalu didorong bukan hanya oleh daya tarik arus utama, tetapi juga oleh keinginan untuk tetap berada di garis depan musik dansa yang sedang tren,” kata kritikus Lee Dae Hwa dalam laporan Korea Joongang Daily, Senin (25/5).
Menurut Lee, perusahaan hiburan Korea kini mulai melirik perkembangan musik underground Eropa, khususnya techno, yang semakin populer di berbagai klub malam internasional. Suasana musik techno yang gelap namun elegan dinilai cocok dengan citra berani dan edgy yang kini ingin dibangun banyak girl group K-pop.
Pandangan serupa disampaikan kritikus musik Lim Hee Yun. Ia menilai tren tersebut muncul karena kebiasaan penikmat musik saat ini sudah berubah drastis. Audiens kini lebih banyak mengonsumsi konten visual pendek dibanding mendengarkan lagu secara penuh.
“Techno bukanlah musik untuk didengarkan secara mendalam. Koreografinya umumnya lebih sederhana daripada pertunjukan tari berbasis hip-hop yang umum di kalangan grup idola pria, dan itu membuatnya sangat efektif untuk pemasaran global yang berfokus pada video pendek," ujar Lim.
Struktur musik techno yang cepat, repetitif, dan langsung menghentak dianggap sangat cocok untuk platform video pendek seperti TikTok dan Instagram Reels. Lagu dengan beat kuat dinilai lebih mudah viral dan menarik perhatian hanya dalam hitungan detik.
Salah satu contoh paling mencolok datang dari grup ILLIT lewat lagu “It’s Me” yang dirilis pada 30 April lalu. Grup yang sebelumnya dikenal dengan konsep lembut melalui lagu seperti “Magnetic” dan “Cherish (My Love)” kini tampil lebih agresif dengan beat techno yang kuat dan performa lebih dinamis.
Transformasi tersebut ternyata mendapat respons positif. Mini album keempat mereka “Mamillapinatapai”, yang memuat lagu “It’s Me”, berhasil menembus posisi ke-26 tangga album Billboard 200 Amerika Serikat pada 16 Mei. Di Korea Selatan, lagu tersebut juga bertahan di papan atas chart Melon dan Genie Music.
Perubahan serupa juga terlihat pada grup IVE lewat lagu “Bang Bang”. Lagu itu mengandalkan pola drum berulang khas techno yang kuat dan terus bertahan di posisi 10 besar tangga lagu Melon sejak dirilis pada Februari lalu.
IVE sebelumnya dikenal lewat lagu bernuansa melodis seperti “I Am” dan “Love Dive”. Namun kini mereka mulai mengadopsi nuansa klub internasional yang lebih kental demi memperluas daya tarik global.
Sementara itu, Blackpink disebut menjadi salah satu grup yang ikut membawa kebangkitan tren techno K-pop ke level internasional. Single mereka “Jump” (2025) menghadirkan dentuman drum cepat, synth elektronik tajam, serta pengulangan lirik sederhana yang mudah diingat.
Lagu tersebut bahkan berhasil menduduki posisi pertama tangga lagu global Spotify mingguan dan menjadikan Blackpink sebagai grup K-pop pertama yang mencapai pencapaian itu. “Jump” juga sukses memuncaki tangga lagu Global Billboard.
Tren techno dalam K-pop sendiri banyak dipengaruhi kultur musik klub Eropa, terutama dari kota seperti Berlin yang dikenal sebagai pusat perkembangan techno dunia. Genre ini identik dengan tempo cepat, dentuman bass keras, serta suara elektronik yang intens.
Meski begitu, versi techno dalam K-pop tetap dibuat lebih ringan dan melodis dibanding techno tradisional Eropa yang biasanya berdurasi panjang dan