Loading
Seorang laki-laki menggendong anak yang terluka untuk mendapat bantuan setelah serangan udara militer Israel di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza, Palestina (21/5/2025). ANTARA/Xinhua/Mahmoud Zaki/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Spanyol menegaskan tidak akan pernah mengakui langkah Israel yang dianggap sebagai aneksasi sepihak dan ilegal terhadap Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, pada Senin (11/8/2025).
Sikap tegas ini muncul setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Kamis (7/8/2025) mengumumkan rencana negaranya untuk mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza. Netanyahu menyebut langkah itu bertujuan memperkuat keamanan perbatasan, sebelum nantinya diserahkan kepada pemerintahan sipil baru. Meski begitu, ia mengklaim Israel tidak bermaksud mempertahankan kekuasaan jangka panjang di wilayah tersebut.
Albares menilai kebijakan tersebut hanya akan memperburuk situasi. “Eskalasi pendudukan militer Israel di Gaza ini akan menambah korban jiwa dan penderitaan, menghambat pembebasan sandera, serta semakin mengguncang stabilitas Timur Tengah,” ujarnya dalam wawancara dengan stasiun TV Spanyol, TVE.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pemberian sanksi baru terhadap Israel, Albares mengungkapkan bahwa Spanyol sudah memiliki daftar sanksi tersendiri, di luar daftar sanksi yang dipromosikan di Uni Eropa. “Daftar ini akan terus kami kembangkan,” tegasnya dikutip Antara.
Langkah serupa juga muncul di tingkat Eropa. Pada akhir Juli lalu, Komisi Eropa mengusulkan penangguhan sebagian partisipasi Israel dalam program penelitian Horizon Europe. Penangguhan tersebut terutama berlaku untuk organisasi berbasis di Israel yang mengikuti kegiatan yang didanai oleh Akselerator Dewan Inovasi Eropa, program yang mendukung usaha kecil dan menengah. Agar berlaku resmi, usulan ini harus mendapat dukungan mayoritas negara anggota Uni Eropa.