Loading
Presiden Donald Trump memberikan surat dari Ibu Negara Melania Trump kepada Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai anak-anak yang hilang, menurut pejabat Gedung Putih. (Andrew Caballero-Reynolds/AFP via Getty Images)
ALASKA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya menahan diri dari rencana penerapan “tarif sekunder” yang semula ditujukan kepada India dan Tiongkok sebagai pembeli utama minyak mentah Rusia. Keputusan itu diumumkan setelah pertemuan puncaknya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Alaska.
Sebelumnya, Trump mengisyaratkan akan memperluas tekanan ekonomi terhadap Moskow dengan menargetkan negara-negara yang tetap membeli minyak Rusia di tengah perang Ukraina. Langkah tersebut dinilai bisa sangat memengaruhi India dan Tiongkok, dua negara yang menjadi pasar terbesar bagi ekspor energi Rusia.
Dari Ancaman Tarif hingga Penundaan
Awal bulan ini, Trump sempat menggandakan tarif produk asal India hingga 50 persen, setelah lebih dulu memberlakukan bea tambahan 25 persen untuk pembelian minyak Rusia per 27 Agustus. New Delhi pun menghadapi risiko kenaikan tarif lebih tinggi jika pertemuan di Alaska gagal mendorong kemajuan dalam penyelesaian konflik Ukraina.
Dalam beberapa kesempatan, Trump bahkan menuding India ikut membiayai perang Rusia dengan membeli minyak diskon dari Moskow. Sementara itu, rencana pengenaan tarif kepada Tiongkok dinilai berpotensi mengguncang kesepakatan gencatan senjata dagang yang telah lama dijalankan kedua negara.
Namun, nada Trump mulai berubah saat berbicara di pesawat Air Force One sebelum pertemuan. Ia mengakui penerapan tarif sekunder “akan sangat merugikan,” khususnya bagi Tiongkok, dan menambahkan bahwa Rusia mulai kehilangan pasar minyak di India.
Hasil Pertemuan Alaska
Setelah hampir tiga jam berdiskusi dengan Putin, Trump menyebut KTT Alaska sebagai “hari yang hebat dan sukses,” meski kesepakatan gencatan senjata belum tercapai. Ia justru menekankan pentingnya negosiasi langsung antara Moskow dan Kyiv untuk mencapai perdamaian penuh.
Dalam wawancara pasca-KTT, Trump menyatakan menunda penerapan tarif sekunder terhadap Tiongkok. Meski tidak menyebut India secara langsung, sikap ini dianggap sebagai bentuk kelonggaran politik di tengah pembicaraan yang belum final.
“Karena apa yang terjadi hari ini, saya rasa saya tidak perlu memikirkannya sekarang,” kata Trump. “Mungkin dalam dua atau tiga minggu lagi, tapi untuk saat ini kita tidak perlu,”dilaporkan The Independent.
Reaksi India dan Tiongkok
India sendiri sejak awal menegaskan ketergantungannya pada minyak Rusia untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Sejak perang Ukraina meletus pada 2022, hampir sepertiga kebutuhan minyak India dipenuhi dari Rusia dengan harga diskon.
Pemerintah Narendra Modi mengecam standar ganda AS yang melarang pembelian minyak namun tetap mengimpor produk Rusia lain seperti uranium, paladium, hingga pupuk. New Delhi menyebut kebijakan tarif AS “tidak adil, tidak masuk akal, dan tidak dapat dibenarkan,” serta berkomitmen melindungi kepentingan nasionalnya.
Sementara itu, Tiongkok yang menjadi pasar terbesar minyak Rusia tetap berhati-hati agar ketegangan dagang dengan AS tidak merusak stabilitas ekonomi global.
Apa Selanjutnya?
Meski Trump menunda rencana tarif sekunder, ancaman itu masih menggantung. Banyak analis menilai keputusan ini hanya bersifat sementara sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari konflik Ukraina maupun dinamika hubungan AS dengan India dan Tiongkok.