Loading
Ilustrasi - Pemandangan kota yang gelap usai serangan udara berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya oleh Amerika Serikat di Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026). ANTARA/Xinhua/Marcos Salgado/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Aktivitas ekspor minyak Venezuela dilaporkan mengalami kelumpuhan serius menyusul operasi militer Amerika Serikat yang mengguncang negara Amerika Latin tersebut. Situasi ini membuat sejumlah kapal tanker gagal berlayar dan berpotensi memukul produksi minyak nasional.
Menurut laporan Reuters, ekspor minyak Venezuela tersendat setelah otoritas pelabuhan tidak mengeluarkan izin keberangkatan bagi kapal-kapal yang telah dijadwalkan membawa minyak mentah. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat terhadap armada tanker yang beroperasi di Venezuela.
Sejumlah sumber menyebutkan, kapal-kapal tanker yang sedianya mengirim minyak ke Amerika Serikat dan Asia masih tertahan di pelabuhan. Data dari layanan pelacakan kapal TankerTrackers menunjukkan tidak ada aktivitas pengapalan di pelabuhan utama Jose pada Sabtu (3/1/2026). Bahkan, beberapa kapal yang sebelumnya direncanakan memuat bahan bakar justru meninggalkan perairan Venezuela tanpa muatan.
Kelumpuhan ekspor ini dikhawatirkan akan berdampak langsung pada produksi minyak nasional. Jika pengiriman terus tertahan, Venezuela terpaksa mengurangi tingkat produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan bahwa sebuah kapal tanker yang semula menuju Venezuela memilih mengubah rute ke Nigeria. Selain itu, empat kapal tanker lainnya dilaporkan menghentikan pelayaran setelah pecahnya konflik militer.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya telah melancarkan operasi militer berskala besar di Venezuela. Dalam perkembangan mengejutkan, Presiden Venezuela Nicolás Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dilaporkan ditangkap dan dibawa keluar dari negara tersebut dilansir Antara.
Sejumlah media internasional juga melaporkan adanya ledakan di Caracas dan menyebut operasi tersebut melibatkan unit elite Delta Force. Hingga kini, situasi di Venezuela masih bergejolak, sementara pasar energi global mulai mencermati dampak lanjutan dari gangguan ekspor minyak negara tersebut.