Zuckerberg Disidang soal Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja


 Zuckerberg Disidang soal Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja Zuckerberg Disidang soal Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja. (Meta Store)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kesaksian CEO Meta dalam persidangan penting di Los Angeles menjadi sorotan global setelah ia diinterogasi soal dugaan kelalaian perusahaan dalam melindungi pengguna di bawah umur dari dampak media sosial. Sidang ini menjadi salah satu proses hukum paling signifikan yang menguji tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap kesehatan mental remaja.

Di hadapan pengadilan, ia menyatakan perusahaannya telah meningkatkan sistem identifikasi usia pengguna, meski mengakui langkah tersebut seharusnya bisa dilakukan lebih cepat. Ia juga menjelaskan bahwa sebagian pengguna memalsukan umur saat mendaftar di Instagram dan akun yang terdeteksi melanggar aturan akan dihapus.

Pernyataan itu, dilansir The Guardian,  langsung diserang pengacara penggugat yang mempertanyakan realistis tidaknya mengandalkan anak-anak membaca syarat penggunaan layanan. Saat terus didesak soal verifikasi usia, ia mengatakan tidak memahami mengapa persoalan tersebut dianggap rumit.

Penggugat menuduh perusahaan merancang platformnya secara sengaja agar membuat pengguna kecanduan. Mereka mengklaim dokumen internal menunjukkan perusahaan mengetahui potensi risiko terhadap kesehatan mental anak muda.

Kasus uji yang dibahas di persidangan melibatkan seorang perempuan yang mengaku penggunaan kompulsif YouTube dan Instagram memperburuk depresi serta pikiran bunuh diri. Perkara itu merupakan bagian dari rangkaian kasus percontohan untuk mengukur respons juri sebelum ratusan gugatan lain disidangkan. Dalam proses awal, TikTok dan Snap telah menyelesaikan perkara mereka, namun masih tercatat sebagai pihak tergugat dalam kasus lanjutan.

Sidang juga menyoroti pernyataan kepala Instagram Adam Mosseri yang sebelumnya menolak anggapan bahwa penggunaan media sosial bisa dikategorikan sebagai kecanduan klinis. Ia menyebut penggunaan berlebihan sebagai kebiasaan bermasalah, bukan gangguan medis resmi. Meski begitu, banyak peneliti telah mendokumentasikan dampak negatif penggunaan kompulsif di kalangan remaja, sehingga isu ini terus menjadi perhatian regulator di berbagai negara.

Pihak pembela Meta menegaskan perusahaan mengakui kondisi mental penggugat, tetapi membantah platform mereka menjadi penyebab utama. Mereka menyebut catatan medis menunjukkan faktor dominan berasal dari kondisi keluarga.

Kasus ini mengingatkan pada sidang dua tahun lalu ketika CEO tersebut meminta maaf kepada keluarga korban eksploitasi daring di Senat. Salah satu orang tua korban, John DeMay, menilai permintaan maaf itu tidak membawa perubahan nyata. Ia kini rutin melobi legislator di Capitol Hill dan berharap putusan pengadilan dapat memaksa reformasi desain platform digital.

Persidangan dipandang sebagai ujian hukum besar yang dapat memicu kompensasi bernilai tinggi serta perubahan standar keselamatan anak di dunia digital. Hasil akhirnya berpotensi menjadi preseden global bagi regulasi perusahaan media sosial.

Suasana persidangan sempat memanas ketika hakim memperingatkan larangan perekaman setelah melihat beberapa orang memakai kacamata pintar bermerek Ray-Ban.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru