Loading
Ilustrasi seseorang tidur. ANTARA/HO-Pexels/Acharaporn Kamornboonyarush
JAKARTA, ARAKITA. COM - Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal JAMA mengungkap fakta mengkhawatirkan tentang pola tidur remaja. Mereka yang tidur kurang dari lima jam setiap malam mengalami peningkatan risiko masalah kesehatan, terutama akibat faktor sosial yang semakin kompleks.
Dilansir dari New York Post Selasa (3/3/2026), penelitian ini menyoroti dua penyebab utama: jam sekolah yang dimulai terlalu pagi dan penggunaan layar hingga larut malam. Padahal, remaja idealnya membutuhkan waktu tidur antara delapan hingga 10 jam setiap malam.
“Intinya, ada krisis tidur pada remaja dan situasinya semakin memburuk. Ini telah menjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat yang serius,” ujar Direktur Klinis Kesehatan Perilaku Digital di Northwell Health, Dr. Courtney Bancroft.
Peneliti menganalisis data selama 16 tahun dan menemukan tren yang terus memburuk. Pada 2007, sekitar 69 persen siswa mengalami kurang tidur. Angka tersebut melonjak menjadi hampir 77 persen pada 2023.
Menariknya, bukan hanya remaja dengan durasi penggunaan ponsel tinggi yang terdampak. Studi tersebut menemukan bahwa remaja yang menggunakan ponsel atau tablet kurang dari empat jam per hari pun tetap memiliki kualitas tidur yang buruk.
Menurut Bancroft, masalahnya lebih kompleks dari sekadar layar gadget.
“Faktor sehari-hari seperti hari sekolah yang panjang, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kehidupan sosial yang padat ikut berkontribusi. Selain itu, ada faktor biologis yang tidak bisa diabaikan,” jelasnya.
Bancroft menjelaskan bahwa remaja mengalami perubahan ritme sirkadian alami. Produksi hormon melatonin—yang memicu rasa kantuk—baru meningkat sekitar pukul 23.00.
“Jadi, mereka memang secara biologis tidak merasa mengantuk sampai waktu itu,” katanya.
Namun, banyak sekolah tetap memulai kegiatan di pagi hari, membuat remaja terpaksa bangun sebelum tubuh mereka siap.
Kurang tidur pada remaja telah lama dikaitkan dengan berbagai dampak negatif, mulai dari depresi, kecemasan, gangguan fungsi otak, hingga peningkatan risiko bunuh diri. Bahkan dalam jangka panjang, kurang tidur disebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit seperti multiple sclerosis.
Yang lebih mengkhawatirkan, dampak ini terjadi hampir pada semua remaja, termasuk mereka yang tidak terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat.
Meskipun membatasi penggunaan ponsel sebelum tidur tetap penting, Bancroft menekankan perlunya pendekatan yang lebih sistemik.
“Sangat penting untuk bekerja selaras dengan biologi remaja, termasuk mempertimbangkan kembali waktu mulai sekolah yang terlalu pagi,” tegasnya.
Temuan ini memperkuat urgensi penanganan krisis tidur remaja sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental generasi muda di masa depan.