Loading
Trump Sebut De Niro “IQ Rendah” Setelah Kritik Pedas Dilempar Sang Aktor. (Wikipedia)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM - Donald Trump kembali melontarkan serangan terhadap Robert De Niro setelah aktor tersebut menyebutnya “idiot” dalam sebuah podcast dan pidato publik. Melalui unggahan panjang di platform Truth Social, Trump menyebut De Niro sebagai sosok “sakit,” “pikun,” dan memiliki “IQ sangat rendah.”
Komentar itu muncul setelah De Niro tampil di podcast yang dipandu Nicole Wallace dan mengkritik keras presiden, mengatakan bahwa Trump berpotensi menghancurkan negara. Aktor veteran tersebut juga tampil dalam acara politik bertajuk State of the Swamp di Washington, yang digelar sebagai tandingan pidato kenegaraan presiden. Dalam pidato emosionalnya, De Niro menyebut Trump sebagai figur yang gagal dan putus asa serta mengaku merasa dikhianati oleh negaranya.
Dalam unggahan yang sama, dilansir The Guardian, Trump juga menyerang anggota Kongres Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, menuduh keduanya berteriak saat pidato kenegaraan dan menyebut mereka ber-IQ rendah. Ia kemudian menyeret nama De Niro ke dalam kritik tersebut, bahkan membandingkannya dengan Rosie O'Donnell dalam komentar bernada ejekan.
Trump juga kembali menggunakan istilah “Trump derangement syndrome,” frasa yang kerap ia pakai untuk menggambarkan lawan politiknya. Pernyataan sebelumnya yang mengaitkan istilah itu dengan kematian sineas Rob Reiner dan istrinya, Michele Reiner, sempat menuai kritik luas.
Ketegangan antara Trump dan De Niro bukan hal baru. Menjelang pemilu 2024, De Niro mengatakan kepada jurnalis Chris Wallace di program milik HBO Max bahwa Trump dan sekutunya bukan Republikan sejati dan menyebutnya dengan berbagai julukan keras. Meski bukan pendukung berat Kamala Harris, ia menilai Harris setidaknya memiliki niat yang benar untuk memimpin negara.
Awal tahun yang sama, National Association of Broadcasters mencabut penghargaan kepemimpinan yang rencananya diberikan kepada De Niro setelah ia berbicara menentang Trump di luar gedung pengadilan dalam salah satu kasus pidana yang menjerat presiden tersebut.