Loading
Arsip - Para pemimpin Eropa. (ANTARA/Anadolu/py)
BRUSSELS, ARAHKITA.COM — Negara-negara Eropa menunjukkan sikap berbeda terkait serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sebagian negara memilih mendorong jalur diplomasi, sementara yang lain menunjukkan dukungan lebih dekat kepada Washington.
Tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memperkeruh dinamika tersebut. Pemerintah AS berharap sekutu-sekutunya di Eropa memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer yang dilakukan bersama Israel.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump menginginkan solidaritas dari negara-negara Eropa.
“Presiden mengharapkan semua sekutu Eropa mendukung Amerika Serikat dan Israel,” kata Leavitt pada Rabu (4/3/2026).
Namun, harapan tersebut tidak sepenuhnya direspons seragam oleh negara-negara di kawasan Eropa.
Uni Eropa Pilih Jalur Diplomasi
Uni Eropa menegaskan pentingnya menahan diri dan mengutamakan diplomasi untuk mencegah konflik semakin meluas. Para menteri luar negeri negara anggota bahkan menggelar pertemuan darurat melalui konferensi video untuk membahas perkembangan situasi.
Blok tersebut menyatakan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi konflik dan menekankan pentingnya perlindungan warga sipil serta penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB.
Kepala kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas memperingatkan bahwa krisis yang terjadi mencerminkan semakin lemahnya penghormatan terhadap hukum internasional.
“Tanpa memulihkan hukum internasional dan akuntabilitas, kita akan terus menyaksikan pelanggaran hukum, gangguan, dan kekacauan,” ujar Kallas.
UE juga menegaskan dukungannya terhadap solusi diplomatik untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Inggris Ambil Sikap Hati-hati
Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer memilih pendekatan yang lebih berhati-hati. London menolak ikut serta dalam serangan militer terhadap Iran dan lebih mendorong penyelesaian melalui perundingan.
Starmer menilai solusi terbaik adalah kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Teheran.
“Solusi terbaik adalah kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Iran, di mana mereka melepaskan ambisi nuklirnya,” kata Starmer.
Meski demikian, Inggris tetap meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dengan mengerahkan jet tempur Typhoon ke Qatar sebagai langkah pertahanan.
Trump bahkan sempat menyindir sikap pemerintah Inggris dan membandingkannya dengan mantan pemimpin Inggris Winston Churchill.
“Ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” kata Trump.
Prancis Tekankan Pentingnya Hukum Internasional
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukan di luar kerangka hukum internasional dapat berdampak serius terhadap stabilitas global.
Macron meminta pembahasan darurat di Dewan Keamanan PBB guna membahas situasi yang berkembang.
Meski berupaya menjaga hubungan dengan Washington, Prancis tetap mengkritik aksi militer yang dinilai berpotensi memicu konflik lebih luas. Paris juga mengerahkan kapal induk Charles de Gaulle ke kawasan untuk melindungi kepentingannya.
Jerman Lebih Dekat dengan Posisi AS
Sementara iut, Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai Iran sebagai salah satu ancaman utama bagi keamanan internasional.
Menurut Merz, berbagai upaya diplomasi dan sanksi selama puluhan tahun belum berhasil menghentikan aktivitas yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan.
“Perang tanpa akhir bukan kepentingan kita,” kata Merz, sembari mengingatkan bahwa runtuhnya negara Iran dapat membawa dampak besar bagi Eropa, mulai dari pasokan energi hingga migrasi.
Jerman juga mengizinkan pasukan AS menggunakan Pangkalan Udara Ramstein untuk mendukung operasi militer.
Spanyol dan Italia Kritik Serangan
Berbeda dengan Jerman, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez secara terbuka mengkritik serangan terhadap Iran.
Ia bahkan menolak penggunaan pangkalan militer Spanyol oleh pasukan AS untuk operasi tersebut.
“Kami tidak akan mengambil sikap yang bertentangan dengan nilai dan prinsip kami karena takut terhadap pembalasan pihak lain. Kami mengatakan ‘tidak’ pada perang,” ujar Sánchez.
Sikap serupa juga disampaikan Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto yang menilai operasi militer itu berada di luar kerangka hukum internasional.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni pun memperingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi yang sulit diprediksi bagi kawasan.
Negara Eropa Timur Lebih Mendukung AS
Di sisi lain, sejumlah negara di Eropa Timur menunjukkan dukungan politik lebih jelas terhadap langkah Washington.
Presiden Polandia Karol Nawrocki menilai kebijakan Iran berpotensi mengancam stabilitas global.
Sementara itu, Perdana Menteri Republik Ceko Petr Fiala menyebut serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dapat dipahami sebagai upaya mencegah pengembangan senjata nuklir.
Ia juga optimistis tekanan militer tersebut bisa mendorong Iran kembali ke meja perundingan.
Secara keseluruhan, perbedaan sikap di antara negara-negara Eropa menunjukkan bahwa kawasan tersebut belum memiliki strategi bersama dalam menghadapi krisis yang semakin kompleks di Timur Tengah.