Loading
Ilustrasi - AS tenggelamkan 16 kapal penebar ranjau Iran di Selat Hormuz. (ChatGPT AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan militer di kawasan Teluk Persia kembali meningkat setelah pasukan Amerika Serikat menenggelamkan sejumlah kapal Iran, termasuk 16 kapal penyebar ranjau laut, di sekitar Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan di tengah laporan bahwa Iran diduga mulai memasang ranjau di jalur laut strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Gangguan kecil sekalipun di kawasan ini berpotensi mengguncang pasar energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya memperingatkan Iran agar segera menyingkirkan ranjau yang diduga telah dipasang di perairan tersebut.
“Jika karena alasan apa pun ranjau ditempatkan dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social.
Trump juga mengklaim bahwa sejumlah kapal penebar ranjau yang tidak aktif telah dihancurkan dan menegaskan operasi militer dapat terus berlanjut jika ancaman terhadap jalur pelayaran internasional tetap ada.
Sementara itu, laporan media internasional menyebutkan Iran memang diduga mulai melakukan aktivitas penambangan laut di kawasan tersebut. Dikutip dari laporan CNBC, pemasangan ranjau masih dilakukan dalam skala terbatas, diperkirakan hanya “beberapa lusin” ranjau yang ditempatkan dalam beberapa hari terakhir.
Namun para analis menilai langkah tersebut tetap berisiko besar. Iran diketahui masih memiliki lebih dari 80 persen armada kapal kecil dan kapal penebar ranjau, yang secara teori mampu menempatkan ratusan ranjau di perairan Selat Hormuz jika konflik meningkat.
Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman. Jalur sempit ini menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global.
Data perusahaan konsultan energi Kpler mencatat bahwa sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz sepanjang 2025. Angka itu setara dengan sekitar 31 persen dari seluruh pengiriman minyak dunia melalui laut.
Ketegangan yang meningkat langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak sempat melonjak mendekati 120 dolar AS per barel, sebelum akhirnya turun kembali. Saat ini minyak mentah WTI diperdagangkan di kisaran 83,8 dolar per barel, sementara patokan global Brent berada di sekitar 87,9 dolar per barel.
Selain memengaruhi harga minyak, ancaman ranjau juga dapat memicu efek domino pada sektor pelayaran. Ranjau laut, meskipun jumlahnya terbatas, bisa memaksa kapal tanker memilih jalur tertentu atau bahkan menunda perjalanan.
Beberapa analis keamanan maritim menilai strategi tersebut dapat digunakan Iran sebagai alat tekanan geopolitik.
Sebuah kajian dari Pusat Keamanan dan Hukum Internasional Robert Strauss di Texas menyebutkan bahwa penggunaan ranjau laut dapat berfungsi ganda: sebagai ancaman langsung sekaligus alat untuk mengendalikan jalur pelayaran yang lebih menguntungkan bagi Iran.
Laporan intelijen Amerika Serikat yang pernah dirahasiakan pada 2009 juga menyebutkan bahwa Iran kemungkinan menggunakan strategi “ancaman ranjau terbatas” untuk menghambat pelayaran dan meningkatkan biaya asuransi kapal.
Dalam praktiknya, langkah tersebut bisa berdampak besar pada industri pelayaran. Bahkan penambangan dalam skala kecil saja dapat menaikkan premi asuransi kapal tanker secara drastis dan secara efektif berfungsi seperti blokade terhadap Teluk Persia.
Kondisi itu sudah mulai terasa. Pekan lalu, biaya pengiriman tanker minyak super di Timur Tengah melonjak ke level tertinggi dalam sejarah, sementara sejumlah perusahaan asuransi risiko perang maritim mulai menghentikan perlindungan bagi kapal yang beroperasi di kawasan Teluk.
Di tengah situasi tersebut, Trump mengatakan pemerintah AS juga telah mempertimbangkan langkah tambahan untuk menjamin keamanan jalur energi global.
Ia menyebut bahwa pemerintah telah meminta US Development Finance Corporation menyediakan jaminan keuangan dan asuransi risiko politik bagi perdagangan maritim yang melintasi kawasan Teluk.
Trump bahkan membuka kemungkinan Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz jika situasi keamanan semakin memburuk.
Namun laporan industri pelayaran menyebutkan bahwa Angkatan Laut AS sejauh ini masih menolak permintaan pengawalan kapal secara rutin karena risiko serangan dinilai terlalu tinggi.
Situasi ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global, dengan potensi dampak yang bisa menjalar ke pasar energi, perdagangan internasional, hingga stabilitas ekonomi dunia.