Serangan Phishing Menggila di Jepang, Kerugian Bank Digital Tembus 10,4 Miliar Yen


 Serangan Phishing Menggila di Jepang, Kerugian Bank Digital Tembus 10,4 Miliar Yen Penipuan perbankan elektronik di Jepang pada 2025 mencetak rekor kerugian hingga 10,4 miliar yen atau sekitar 65 juta dolar AS. (Ilustrasi: ChatGPT AI)

TOKYO, ARAHKITA.COM – Penipuan yang menyasar pengguna layanan perbankan elektronik di Jepang mencapai rekor tertinggi pada 2025. Total kerugian yang tercatat bahkan menembus 10,4 miliar yen atau sekitar 65 juta dolar AS, menurut data terbaru Badan Kepolisian Nasional Jepang.

Lonjakan tersebut menunjukkan semakin seriusnya ancaman kejahatan siber di sektor keuangan digital, terutama yang menargetkan individu maupun perusahaan.

Berdasarkan laporan National Police Agency (NPA) yang dirilis Kamis (12/3/2026), kerugian akibat penipuan ini meningkat sekitar 1,7 miliar yen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari total kerugian tersebut, sekitar 55 persen dialami oleh individu, sementara 45 persen lainnya menimpa perusahaan.

Namun yang paling mengkhawatirkan adalah lonjakan kerugian pada sektor bisnis. Kerugian yang dialami perusahaan tercatat mencapai sekitar 4,7 miliar yen, atau lebih dari empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Phishing Jadi Metode Paling Dominan

Mayoritas penipuan terjadi melalui phishing, yakni metode penipuan yang bertujuan mencuri data sensitif korban seperti kata sandi, nomor kartu, atau akses perbankan digital.

Menurut NPA, sekitar 90 persen dari total kasus penipuan pada 2025 menggunakan metode ini.

Jumlah kasus transfer uang ilegal yang terkait phishing bahkan mencapai 2.454.297 kasus, meningkat sekitar 730.000 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, jumlah laporan situs web palsu yang meniru halaman resmi bank atau layanan digital juga meningkat drastis. Pada 2025, kasusnya melampaui 1 juta laporan, bertambah sekitar 300.000 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.

Ransomware Juga Mengancam Perusahaan

Selain phishing, ancaman lain yang meningkat adalah serangan ransomware sebagaimana dikutip dari Antara.

Dalam jenis serangan ini, pelaku meretas sistem komputer korban lalu mengunci data penting. Korban kemudian diminta membayar sejumlah uang agar akses terhadap data tersebut dipulihkan.

Pada 2025, jumlah kasus ransomware meningkat menjadi 226 kasus, bertambah empat kasus dari tahun sebelumnya. Yang menarik, sekitar 60 persen korban ransomware merupakan perusahaan kecil dan menengah (UKM).

Survei yang dilakukan terhadap perusahaan yang terkena serangan menunjukkan bahwa sekitar setengah korban harus mengeluarkan biaya pemulihan lebih dari 10 juta yen.

Bahkan dalam lima kasus tertentu, biaya pemulihan dilaporkan melebihi 100 juta yen, menunjukkan besarnya dampak finansial yang ditimbulkan oleh serangan siber ini.

Ancaman Kejahatan Siber Terus Meningkat

Lonjakan kasus penipuan dan serangan digital ini menegaskan bahwa keamanan siber menjadi tantangan serius bagi sektor keuangan modern.

Dengan semakin luasnya penggunaan layanan perbankan digital, masyarakat dan perusahaan di Jepang kini diingatkan untuk lebih waspada terhadap email, pesan, atau situs web mencurigakan yang dapat menjadi pintu masuk kejahatan siber.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru