Rabu, 30 September 2026

Gencatan Senjata Iran-AS Buntu, Ketegangan Meningkat dan Harga Energi Terancam Naik


 Gencatan Senjata Iran-AS Buntu, Ketegangan Meningkat dan Harga Energi Terancam Naik Arsip foto - Sejumlah warga kota membentangkan poster saat aksi unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran, di New York, Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026). (ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Fengguo/nz)

WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Harapan meredakan konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu. Upaya sejumlah negara mediator untuk mendorong gencatan senjata belum membuahkan hasil, bahkan situasi justru menunjukkan tanda-tanda eskalasi.

Laporan The Wall Street Journal pada Jumat (4/4/2026) mengungkap bahwa Iran menolak ajakan bertemu dengan pejabat Amerika Serikat dalam waktu dekat. Pertemuan yang rencananya digelar di Pakistan itu urung terlaksana karena Teheran menilai tuntutan Washington tidak dapat diterima.

Sikap Iran ini mempertegas posisi mereka yang tidak ingin berkompromi dalam bentuk gencatan senjata sementara. Pemerintah Iran menegaskan bahwa satu-satunya opsi yang bisa diterima adalah penghentian perang secara total.

Di sisi lain, upaya diplomasi belum sepenuhnya berhenti. Mesir dan Turki masih aktif memainkan peran sebagai mediator dengan menawarkan sejumlah lokasi alternatif untuk perundingan, seperti Doha dan Istanbul. Namun hingga kini, belum ada sinyal kuat bahwa kedua pihak siap duduk bersama.

Pernyataan tegas juga datang dari Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdosipour. Ia menyebut Iran hanya akan menerima akhir konflik secara menyeluruh, bukan sekadar jeda sementara melalui gencatan senjata.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, turut membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Teheran telah meminta gencatan senjata. Bantahan ini semakin memperlihatkan jurang perbedaan yang lebar antara kedua negara dikutip Antara.

Ketegangan ini dipicu oleh serangan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel pada 28 Februari lalu. Sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, dilaporkan mengalami kerusakan dan menimbulkan korban sipil.

Iran tidak tinggal diam. Serangan balasan diluncurkan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, memperluas konflik dan meningkatkan risiko perang terbuka.

Dampak konflik ini tidak hanya dirasakan secara geopolitik, tetapi juga ekonomi global. Ketegangan di kawasan Teluk Persia memicu gangguan serius di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia. Blokade de facto yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi menghambat pasokan energi global.

Jika situasi ini terus berlanjut, harga minyak dan gas diperkirakan akan melonjak, memberi tekanan tambahan pada ekonomi dunia yang masih dalam proses pemulihan.

Dengan diplomasi yang mandek dan konflik yang terus memanas, dunia kini menanti apakah jalur dialog masih memiliki peluang—atau justru krisis yang lebih besar tak terhindarkan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru