Melania Trump Bantah Kaitan dengan Epstein, Serukan Sidang Terbuka untuk Korban


 Melania Trump Bantah Kaitan dengan Epstein, Serukan Sidang Terbuka untuk Korban Melania Trump mencetak sejarah sebagai ibu negara AS pertama yang memimpin rapat Dewan Keamanan PBB. (Foto: X)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Nama Melania Trump kembali menjadi sorotan publik setelah ia secara tegas membantah memiliki hubungan dengan Jeffrey Epstein, sosok kontroversial yang terlibat dalam kasus perdagangan seks kelas dunia.

Dalam pernyataan mengejutkan di Gedung Putih, Melania menegaskan bahwa berbagai klaim yang mengaitkan dirinya dengan Epstein adalah tidak berdasar dan harus segera dihentikan.

“Semua tuduhan ini harus diakhiri hari ini,” ujarnya kepada wartawan.

Tak hanya membantah, Melania juga mengambil langkah yang cukup berani. Ia menyerukan agar Kongres Amerika Serikat menggelar sidang khusus yang memberi ruang bagi para korban Epstein untuk bersaksi secara resmi.

Menurutnya, setiap perempuan berhak menyampaikan pengalaman mereka secara terbuka—dan kesaksian itu perlu dicatat sebagai bagian dari sejarah.

Bantahan dan Klarifikasi

Melania mengakui bahwa dirinya pernah bertemu Epstein secara singkat pada tahun 2000. Namun, ia menegaskan bahwa tidak pernah ada keterlibatan lebih jauh, apalagi mengetahui praktik kejahatan yang dilakukan Epstein.

“Saya tidak pernah mengetahui adanya pelecehan. Saya tidak pernah terlibat dalam kapasitas apa pun,” katanya sebagaimana dilaporkan dan dikutip dari BBC.

Ia juga membantah mengenal Ghislaine Maxwell, sosok yang dikenal sebagai rekan dekat Epstein dan kini telah dipenjara.Terkait email lama yang sempat mencuat ke publik, Melania menyebutnya hanya sebagai korespondensi biasa yang bersifat sopan, tanpa makna khusus.

Foto Lama Kembali Dipersoalkan

Polemik ini kembali mencuat setelah beredarnya foto tahun 2000 di klub Mar-a-Lago, Florida. Dalam foto tersebut, Melania terlihat bersama Donald Trump, Epstein, dan Maxwell dalam satu acara sosial.

Meski demikian, pihak Melania menegaskan bahwa foto tersebut tidak dapat dijadikan bukti adanya hubungan dekat.

Respons Beragam dari Korban

Pernyataan Melania memicu reaksi beragam, terutama dari para penyintas kasus Epstein.

Salah satu korban, Lisa Phillips, menyebut langkah Melania sebagai “berani”, namun mempertanyakan sejauh mana komitmen nyata yang akan diberikan untuk membantu para korban.

Ia bahkan menyarankan agar sidang dilakukan secara tertutup, mengingat banyak penyintas masih terikat perjanjian kerahasiaan atau takut untuk berbicara secara publik.

Di sisi lain, keluarga dari Virginia Giuffre—salah satu penuduh Epstein—justru mengkritik pernyataan tersebut. Mereka menilai permintaan agar korban kembali bersaksi bisa menjadi beban tambahan bagi para penyintas.

Desakan Transparansi

Melania menekankan pentingnya transparansi dalam mengungkap kebenaran, termasuk membuka akses terhadap berkas investigasi Epstein yang selama ini belum sepenuhnya dirilis.

“Ini bukan soal menyalahkan tanpa bukti, tetapi tentang membuka fakta secara jujur dan terbuka,” tegasnya.

Seruan tersebut langsung mendapat dukungan dari sejumlah politisi, termasuk anggota Kongres dari Partai Demokrat yang mendorong agar sidang publik segera dijadwalkan.

Polemik Hukum yang Berlanjut

Isu ini juga menyeret Melania dalam sejumlah sengketa hukum. Beberapa media dan penerbit bahkan terpaksa menarik kembali konten yang memuat klaim tidak terverifikasi mengenai hubungan dirinya dengan Epstein.

Melania menegaskan bahwa ia akan terus melawan setiap tuduhan yang dianggap mencemarkan nama baiknya.

“Saya akan menjaga reputasi saya dan melawan kebohongan ini tanpa ragu,” ujarnya.

Isu Lama yang Kembali Mengemuka

Kasus Epstein memang belum sepenuhnya reda. Meskipun Donald Trump mengakui pernah mengenal Epstein, ia mengklaim telah memutus hubungan sejak lama dan bahkan mengusirnya dari klub Mar-a-Lago.

Hingga kini, tidak ada bukti hukum yang mengaitkan Trump dengan pelanggaran dalam kasus tersebut.

Namun, munculnya kembali isu ini menunjukkan bahwa kasus Epstein masih menjadi luka terbuka—baik bagi para korban maupun publik yang menuntut kejelasan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru