Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Washington. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran. Trump menyebut Iran bisa menghadapi serangan militer dengan “tingkat yang jauh lebih tinggi” apabila menolak proposal kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap konflik AS-Iran yang berlangsung selama dua bulan terakhir.
Trump mengatakan perang dapat segera berakhir apabila Teheran menerima proposal tersebut. Menurutnya, kesepakatan itu juga akan membuka kembali jalur perdagangan penting di Selat Hormuz untuk seluruh negara.
Baca juga:
AS dan Iran Teken MoU Secara Elektronik untuk Akhiri Perang, Kesepakatan Resmi Dijadwalkan di Swiss“Perang akan berakhir jika Iran menyetujui proposal ini,” tulis Trump. Ia juga menambahkan bahwa Selat Hormuz nantinya akan kembali “terbuka untuk semua.”
Namun, Trump memperingatkan konsekuensi serius jika Iran menolak tawaran tersebut. Ia menegaskan pemboman terhadap Iran bisa dimulai kembali dengan intensitas yang lebih besar dibanding sebelumnya.
“Jika Iran tidak menyetujui kesepakatan, pemboman akan dimulai dan sayangnya akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi,” ujar Trump.
Optimisme terhadap peluang damai sebenarnya mulai muncul setelah laporan menyebut Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan baru. Dilaporkan dan dikutip dari CNBC, pemerintah AS disebut tengah menunggu tanggapan Iran terkait sejumlah poin penting yang akan menjadi dasar memorandum kesepakatan dalam 48 jam ke depan.
Laporan itu langsung memengaruhi pasar global. Harga minyak dunia turun tajam, sementara kontrak berjangka saham AS, saham Eropa, dan obligasi pemerintah global mengalami penguatan.
Kesepakatan yang sedang dibahas disebut mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran, pencabutan sebagian sanksi AS, serta pengaturan ulang kontrol jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, situasi di lapangan masih terlihat rapuh. Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan militer tetap terjadi. Iran dilaporkan menyerang pasukan AS yang membantu pengamanan kapal dagang di Selat Hormuz dan melancarkan serangan baru ke wilayah Uni Emirat Arab.
Di sisi lain, militer AS mengklaim telah menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang dianggap mencoba mengganggu lalu lintas kapal dagang di jalur strategis tersebut.
Harapan baru terhadap perdamaian kembali muncul setelah Trump memutuskan menghentikan sementara operasi militer bertajuk “Proyek Kebebasan”, yang sebelumnya diluncurkan untuk mengawal kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz.
Trump bahkan menyebut telah terjadi “kemajuan besar” menuju kesepakatan final antara kedua negara.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pihaknya masih mengevaluasi proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Amerika Serikat.
Jika kesepakatan benar-benar tercapai, konflik panjang yang memicu kekhawatiran global terhadap keamanan energi dan perdagangan internasional itu berpotensi mereda dalam waktu dekat.