Loading
Perang Iran Memanas, Raksasa Minyak dan Bank Global Justru Untung Besar. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ketika banyak keluarga di berbagai negara mulai merasakan tekanan ekonomi akibat konflik Iran, AS, dan Israel, sejumlah perusahaan global justru menikmati lonjakan keuntungan fantastis. Perang yang memicu ketidakpastian geopolitik itu membuat harga energi naik, pasar keuangan bergejolak, dan pengeluaran militer meningkat drastis.
Di tengah kekhawatiran dunia terhadap inflasi, biaya hidup, dan ancaman resesi global, beberapa sektor bisnis malah mendapatkan “durian runtuh”. Mulai dari perusahaan minyak, bank investasi, industri pertahanan, hingga energi terbarukan, semuanya menikmati efek ekonomi dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Situasi semakin memanas setelah terganggunya jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Dampaknya terasa luas, mulai dari kenaikan harga bensin hingga ketidakstabilan pasar global.
Dilaporkan dan dikutip dari BBC News, berikut beberapa sektor dan perusahaan yang justru mencetak keuntungan miliaran dolar di tengah perang Iran.
Raksasa Minyak dan Gas Panen Cuan
Sektor energi menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan. Ketika pasokan minyak dunia terganggu, harga minyak mentah melonjak tajam dan menciptakan peluang besar bagi perusahaan-perusahaan energi global.
Perusahaan minyak asal Inggris, BP, melaporkan keuntungan lebih dari dua kali lipat menjadi US$3,2 miliar pada kuartal pertama 2026. Kenaikan itu didorong oleh performa kuat divisi perdagangan energi mereka yang mampu memanfaatkan fluktuasi harga minyak.
Hal serupa juga dialami Shell yang membukukan laba hingga US$6,92 miliar. Sementara perusahaan energi asal Prancis,
TotalEnergies, mencatat kenaikan laba hampir sepertiga menjadi US$5,4 miliar.
Di Amerika Serikat, ExxonMobil dan Chevron memang mengalami tekanan pasokan akibat konflik Timur Tengah. Namun, keduanya tetap melampaui ekspektasi analis dan memperkirakan keuntungan masih akan meningkat selama harga minyak tetap tinggi.
Bank-Bank Besar Wall Street Ikut Menang
Tak hanya sektor energi, industri perbankan global juga menikmati lonjakan pendapatan selama konflik berlangsung. Ketidakpastian pasar membuat aktivitas perdagangan saham, obligasi, dan aset aman meningkat tajam.
JP Morgan, misalnya, mencatat pendapatan perdagangan sebesar US$11,6 miliar hanya dalam tiga bulan pertama 2026. Angka itu membantu bank tersebut meraih salah satu laba kuartalan terbesar dalam sejarah perusahaan.
Bank-bank besar lain seperti Bank of America, Goldman Sachs, Citigroup, Morgan Stanley, dan Wells Fargo juga mengalami kenaikan laba signifikan. Secara total, enam bank besar Wall Street membukukan keuntungan sekitar US$47,7 miliar pada kuartal pertama tahun ini.
Analis investasi dari Wealth Club, Susannah Streeter, mengatakan volatilitas akibat perang mendorong lonjakan aktivitas perdagangan karena investor bereaksi cepat terhadap situasi geopolitik.
Sebagian investor memilih menjual aset berisiko, sementara lainnya memanfaatkan penurunan harga saham untuk membeli di saat pasar melemah. Aktivitas inilah yang membuat bank investasi menikmati peningkatan transaksi besar-besaran.
Industri Pertahanan Kebanjiran Pesanan
Setiap konflik berskala besar hampir selalu menjadi momentum pertumbuhan bagi industri pertahanan. Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat kini meningkatkan anggaran militer mereka untuk memperkuat sistem keamanan nasional.
Analis senior RSM UK, Emily Sawicz, menyebut perang Iran mempercepat kebutuhan terhadap sistem pertahanan udara, rudal anti-drone, hingga teknologi militer canggih lainnya.
Perusahaan pertahanan besar seperti BAE Systems, Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman pun menikmati lonjakan permintaan.
BAE Systems menyebut meningkatnya ancaman keamanan global menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan penjualan dan laba perusahaan tahun ini. Sementara Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman dilaporkan memiliki nilai pesanan tertunda dalam jumlah rekor pada awal 2026.
Meski demikian, saham sektor pertahanan sempat mengalami koreksi sejak pertengahan Maret karena sebagian investor menilai valuasi perusahaan-perusahaan tersebut sudah terlalu tinggi.
Energi Terbarukan Ikut Dilirik Investor
Menariknya, perang Iran tidak hanya menguntungkan industri berbasis bahan bakar fosil. Konflik ini juga membuat banyak negara dan investor mulai mencari alternatif energi yang lebih stabil dan tidak bergantung pada kawasan Timur Tengah.
Perusahaan energi terbarukan seperti NextEra Energy mengalami kenaikan harga saham hingga 17 persen sepanjang tahun ini. Investor melihat energi bersih sebagai solusi jangka panjang menghadapi ketidakpastian geopolitik.
Di Eropa, perusahaan energi angin asal Denmark seperti Vestas dan Orsted juga melaporkan pertumbuhan laba yang cukup kuat.
Sementara itu di Inggris, Octopus Energy mengungkapkan penjualan panel surya dan pompa panas meningkat tajam sejak akhir Februari. Bahkan, penjualan panel surya disebut naik hingga 50 persen akibat kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan harga energi.
Kenaikan harga bahan bakar juga ikut mendorong permintaan kendaraan listrik, terutama produk-produk asal Tiongkok yang kini semakin agresif menguasai pasar global.
Perang yang Mengubah Peta Ekonomi Dunia
Konflik Iran menunjukkan bahwa perang tidak hanya berdampak pada politik dan keamanan global, tetapi juga mengubah arah ekonomi dunia. Ketika sebagian masyarakat menghadapi tekanan hidup yang makin berat, sejumlah perusahaan justru berhasil mengubah krisis menjadi peluang bisnis bernilai miliaran dolar.
Fenomena ini kembali memperlihatkan bagaimana gejolak geopolitik global bisa menciptakan pemenang dan pihak yang dirugikan secara bersamaan. Dan selama konflik terus berlangsung, arus keuntungan di sektor energi, keuangan, dan pertahanan diperkirakan masih akan terus mengalir.