Loading
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Selasa (6/4/2026). ANTARA/Anadolu/Celal Güneş/pri.
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati gencatan senjata sementara selama tiga hari. Kesepakatan tersebut juga mencakup pertukaran masing-masing 1.000 tahanan dari kedua negara.
Pengumuman itu disampaikan Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Jumat waktu setempat. Ia menyebut penghentian sementara konflik akan berlangsung pada 9 hingga 11 Mei 2026.
Menurut Trump, selama periode tersebut seluruh aktivitas militer antara Rusia dan Ukraina akan dihentikan sementara. Ia mengaku telah menyampaikan permintaan itu secara langsung kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Trump pun mengapresiasi persetujuan kedua pemimpin tersebut terhadap langkah yang dinilai bisa membuka jalan menuju perdamaian lebih luas.
“Ini bisa menjadi awal dari berakhirnya perang panjang dan mematikan,” tulis Trump.
Ia juga menyebut pembicaraan diplomatik masih terus berlangsung untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menelan banyak korban jiwa.
Dalam keterangannya kepada wartawan sebelum meninggalkan Gedung Putih, Trump mengatakan dirinya terbuka terhadap kemungkinan gencatan senjata permanen. Bahkan, ia mengaku siap mengirim tim negosiator ke Rusia apabila hal itu dapat membantu mempercepat proses damai.
Trump menyebut konflik Rusia-Ukraina sebagai salah satu tragedi terbesar dunia modern sejak World War II.
“Saya ingin perang itu berakhir,” ujarnya dikutip Antara.
Pernyataan Trump muncul setelah utusan khusus AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner bertemu kepala perunding Ukraina, Rustem Umerov, di Miami. Pertemuan itu membahas percepatan jalur diplomasi dan koordinasi langkah menuju perdamaian.
Namun di tengah upaya tersebut, situasi di lapangan masih memanas. Rusia dan Ukraina sebelumnya saling menuduh melanggar gencatan senjata dua hari yang diumumkan Rusia bertepatan dengan peringatan Hari Kemenangan pada 9 Mei.
Negosiasi damai juga disebut berjalan lambat karena perhatian dunia internasional saat ini turut tertuju pada meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah, khususnya antara AS, Israel, dan Iran.
Meski begitu, pengumuman gencatan senjata terbaru ini dinilai menjadi sinyal positif di tengah panjangnya perang yang belum menunjukkan tanda benar-benar berakhir.