Jumat, 14 Agustus 2026

Kemitraan China-ASEAN Jadi Kunci Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan


 Kemitraan China-ASEAN Jadi Kunci Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Kemitraan ASEAN-China dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik. (Ilustrasi AI)

KUALA LUMPUR, ARAHKITA.COM – Kemitraan antara ASEAN dan China dinilai semakin penting untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Pandangan tersebut disampaikan CEO Kantor Berita Nasional Malaysia (Bernama), Nur-ul Afida Kamaludin, dalam wawancara eksklusif dengan Xinhua. Menurutnya, hubungan ASEAN-China ke depan tidak hanya bertumpu pada perdagangan dan investasi konvensional, tetapi juga akan semakin dipengaruhi perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Nur-ul Afida menilai kawasan Asia-Pasifik perlu menghindari terbentuknya blok-blok yang saling berhadapan. Sebaliknya, stabilitas kawasan harus dibangun melalui dialog, sikap saling menghormati, dan kerja sama yang inklusif.

“Di tengah ketidakpastian geopolitik, kawasan ini tidak boleh terpecah menjadi blok-blok yang saling bersaing atau eksklusif,” ujarnya.

Ia berharap dalam satu dekade mendatang Asia-Pasifik tetap menjadi kawasan yang damai, terbuka, dan dinamis secara ekonomi. Menurutnya, negara-negara kecil dan berkembang juga harus memiliki ruang yang cukup untuk menyuarakan kepentingannya dalam berbagai kerja sama regional.

Kerja Sama ASEAN-China Makin Luas

Hubungan ASEAN-China, termasuk hubungan Malaysia-China, telah berkembang di berbagai sektor. Mulai dari perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur hingga pertukaran antarmasyarakat.

Namun, peluang kerja sama dinilai masih jauh lebih besar, terutama dengan berkembangnya ekonomi digital dan AI.

“Ke depannya, ekonomi digital dan AI menawarkan potensi yang sangat besar,” kata Nur-ul Afida.

Selain teknologi digital, ekonomi hijau juga menjadi sektor yang dinilai memiliki prospek kuat. Kerja sama di bidang energi terbarukan, kendaraan listrik, teknologi baterai, serta efisiensi energi berpotensi membuka lapangan kerja sekaligus membantu negara-negara di kawasan mencapai target iklim.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kemitraan ASEAN-China tidak lagi sekadar berbicara mengenai arus barang dan investasi. Kerja sama teknologi, energi, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia akan semakin menentukan daya saing kawasan.

Terinspirasi Transformasi China

Nur-ul Afida juga membagikan pengalamannya saat melihat langsung perkembangan China. Ia mengaku terkesan dengan skala dan kecepatan transformasi yang berlangsung di negara tersebut.

Transformasi itu, menurutnya, tidak hanya terlihat dari pembangunan berbagai proyek infrastruktur berskala besar. Perubahan juga terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui penggunaan pembayaran digital, perdagangan elektronik, sistem transportasi yang efisien, hingga layanan daring yang semakin terintegrasi.

Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah kemampuan China mengembangkan inovasi dari tahap eksperimen menuju penerapan dalam skala luas.

“China juga menunjukkan kemampuannya untuk bergerak cepat dari tahap eksperimen menuju penerapan berskala besar,” ujarnya.

Inovasi, lanjutnya, tidak berhenti pada proyek percontohan, tetapi dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai sektor industri, kota, hingga layanan publik.

Transformasi Digital Juga Mengubah Industri Media

Perubahan tersebut turut terlihat dalam industri media. Menurut Nur-ul Afida, China telah melakukan investasi besar dalam pengembangan konten untuk perangkat seluler, produksi video, platform digital, jurnalisme berbasis data, hingga pemanfaatan AI.

Perkembangan teknologi tersebut memberikan gambaran bahwa industri media ke depan tidak bisa hanya mengandalkan pola kerja konvensional. Kemampuan memanfaatkan data, teknologi digital, video, dan AI menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Bagi Malaysia dan negara-negara ASEAN, pengalaman China tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam mengembangkan ekosistem digital masing-masing.

Peluang Kolaborasi ASEAN-China Semakin Terbuka

Nur-ul Afida menilai investasi jangka panjang China dalam infrastruktur, penelitian, keterampilan, dan penerapan teknologi memberikan pengalaman berharga bagi Malaysia dan ASEAN dilansir Antara.

Karena itu, kerja sama tidak harus berhenti pada hubungan antarpemerintah. Kolaborasi dapat diperluas dengan melibatkan perguruan tinggi, dunia industri, lembaga pemerintah, hingga organisasi media.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan manfaat kemitraan dapat dirasakan lebih luas sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan dan teknologi.

Dengan perkembangan ekonomi digital, AI, energi hijau, dan inovasi yang semakin cepat, kemitraan ASEAN-China berpotensi menjadi salah satu fondasi penting bagi masa depan kawasan.

Tantangannya adalah bagaimana kerja sama tersebut tetap terbuka, inklusif, dan saling menguntungkan, sehingga Asia-Pasifik dapat mempertahankan stabilitas sekaligus terus tumbuh di tengah perubahan tatanan global.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru