Foto yang diambil pada 2 Juli 2026 ini menunjukkan suasana upacara pembukaan Konferensi Ekonomi Digital Global 2026 di Pusat Konvensi Nasional China di Beijing, China. ANTARA/Xinhua/Zhang Chenlin.
BEIJING, ARAHKITA.COM – Konferensi Ekonomi Digital Global (Global Digital Economy Conference/GDEC) 2026 resmi dibuka di Beijing, China, Kamis (2/7/2026). Forum internasional ini mempertemukan para pemimpin industri, akademisi, pelaku bisnis, hingga pejabat pemerintah dari berbagai negara untuk membahas arah masa depan ekonomi digital dunia.
Pembukaan konferensi dihadiri eksekutif perusahaan global, perwakilan dewan bisnis, kalangan akademisi, serta pejabat setingkat menteri dari Kazakhstan, Kolombia, dan Chad. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam mempercepat transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Salah satu agenda utama dalam pembukaan konferensi adalah peluncuran Global Digital Economy Cities Report 2026 oleh Global Digital Economy City Alliance. Laporan tersebut mengulas bagaimana perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah kota-kota modern sekaligus mendorong perubahan cara masyarakat hidup, bekerja, dan berinteraksi.
Laporan itu juga menekankan bahwa teknologi digital tidak hanya harus mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, mendukung dunia usaha, serta mudah diakses oleh seluruh lapisan warga.
Dalam kesempatan yang sama, diperkenalkan pula Global Digital Economy Lighthouse Casebook 2026, publikasi bersama International Telecommunication Union (ITU), International Trade Centre (ITC), dan Global Digital Economy City Alliance.
Buku tersebut menampilkan 13 "lighthouse cases" atau praktik terbaik transformasi digital dari berbagai kota di dunia, termasuk Beijing, Jakarta, Madrid, dan Istanbul. Beragam contoh tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat daya saing perkotaan.
Enam bidang utama menjadi sorotan dalam publikasi tersebut, yaitu tata kelola kota digital yang kolaboratif, layanan publik digital yang inklusif, pembangunan infrastruktur yang tangguh menghadapi perubahan iklim, peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis teknologi, sistem transportasi pintar rendah karbon, serta perluasan akses digital bagi kelompok rentan dikutip Antara.
Konferensi yang berlangsung hingga Minggu (5/7/2026) itu juga menghadirkan berbagai forum tematik. Sejumlah isu strategis menjadi pembahasan utama, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pengembangan talenta digital, hingga percepatan digitalisasi sektor industri.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2021, Global Digital Economy Conference terus berkembang menjadi salah satu forum ekonomi digital terbesar di dunia. Menurut panitia penyelenggara, konferensi ini telah melibatkan lebih dari 10.000 perusahaan dan sekitar 150.000 peserta dari lebih dari 200 negara dan organisasi internasional.
Hingga 2026, sedikitnya 500 capaian dan hasil kolaborasi telah dipublikasikan, menunjukkan semakin besarnya peran konferensi ini dalam mendorong inovasi, kerja sama internasional, serta pembangunan ekonomi digital yang inklusif di tingkat global.