Ilustrasi - Peta negara-negara Teluk Persia. /Ist.-Wikiwisata/py.
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan sejumlah negara sekutunya di kawasan Teluk mulai menghadapi tekanan baru. Konflik berkepanjangan dengan Iran membuat sebagian negara Teluk mempertanyakan kembali strategi Washington di kawasan tersebut.
Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump disebut semakin meningkat karena perang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Di saat yang sama, upaya diplomatik untuk menghentikan konflik juga belum menghasilkan kesepakatan final.
“Trump memulai perang ini, dan kami yang harus menanggung akibatnya,” kata seorang pejabat negara Teluk yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada The Washington Post.
Pejabat tersebut menilai kemarahan terhadap AS kini berada pada titik tertinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari.
Negara Teluk Mulai Mempertanyakan Kehadiran Militer AS
Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain disebut semakin kritis terhadap kebijakan pemerintahan Trump.
Menurut laporan The Washington Post, yang mengutip sejumlah pejabat Arab dan Barat, kekhawatiran tersebut muncul setelah berbulan-bulan konflik diwarnai serangan rudal dan pesawat nirawak Iran serta kelompok-kelompok yang didukung Teheran.
Situasi ini bahkan mulai memunculkan pertanyaan lebih mendasar: apakah keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk masih memberikan manfaat keamanan yang sebanding dengan risikonya?
Sejumlah negara Teluk dilaporkan mulai mempertimbangkan kembali manfaat menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer besar AS di kawasan.
Seorang diplomat Barat yang berbicara kepada media tersebut mengatakan, perkembangan itu belum serta-merta menunjukkan perubahan besar dalam sentimen masyarakat atau pemerintah Teluk terhadap AS.
Namun, menurut dia, kehadiran pasukan AS memang sejak sebelum perang dengan Iran tidak selalu disambut dengan antusias.
“Keberadaan mereka lebih dianggap sebagai kejahatan yang diperlukan,” kata diplomat tersebut. “Kini, kebutuhan terhadap keberadaan mereka mulai dipertanyakan.”
Ancaman Trump Dinilai Menambah Kekhawatiran
Keraguan negara-negara Teluk juga muncul di tengah sikap Trump yang dinilai tidak konsisten dalam menghadapi Iran.
Trump beberapa kali mengancam akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Teheran. Namun, ancaman tersebut kemudian ditarik kembali dengan alasan adanya kemajuan dalam jalur perundingan diplomatik.
Persoalannya, hingga kini Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri konflik.
Bagi negara-negara Teluk yang berada dekat dengan Iran secara geografis, ketidakpastian tersebut menjadi persoalan serius.
Konflik yang semakin panjang bukan hanya menyangkut keamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu perdagangan, energi, pelayaran, serta stabilitas ekonomi kawasan.
Gedung Putih Bantah Hubungan dengan Negara Teluk Memburuk
Pemerintahan Trump membantah penilaian bahwa hubungan AS dengan negara-negara Teluk sedang mengalami keretakan.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump memiliki “hubungan yang luar biasa dengan seluruh mitra kami di Teluk”.
Washington, lanjut pejabat tersebut, juga terus berkomunikasi secara rutin dengan para sekutunya di kawasan Teluk Persia sejak konflik dimulai.
Sikap negara-negara Teluk terhadap perang pun tidak sepenuhnya seragam.
Sebagian negara pada awalnya melihat kemungkinan kemenangan cepat AS atas Iran sebagai sesuatu yang berpotensi memberikan keuntungan strategis. Namun, pandangan tersebut mulai berubah ketika konflik berlangsung lebih lama tanpa penyelesaian yang jelas.
Tetap Membutuhkan Dukungan Keamanan AS
Meski kritik terhadap Washington meningkat, negara-negara Teluk belum berada pada posisi mudah untuk benar-benar menjauh dari AS.
Kawasan tersebut masih bergantung pada Washington dalam sejumlah aspek keamanan, termasuk peralatan militer, amunisi, serta dukungan intelijen.
Artinya, terdapat dilema besar di balik meningkatnya kritik terhadap AS.
Di satu sisi, negara-negara Teluk khawatir keterlibatan militer AS dalam konflik dengan Iran justru meningkatkan risiko keamanan bagi wilayah mereka. Di sisi lain, mereka masih membutuhkan kemampuan pertahanan dan dukungan strategis Washington.
Hubungan tersebut akhirnya berada dalam posisi yang serba sulit: membutuhkan AS untuk keamanan, tetapi pada saat yang sama mulai mempertanyakan konsekuensi dari keberadaan AS.
Selat Hormuz Jadi Titik Penting
Perkembangan lain yang tidak kalah penting terjadi di jalur pelayaran kawasan.
Iran dan Oman disebut telah melakukan pembicaraan mengenai keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz selama sekitar tiga bulan terakhir.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia dan memiliki arti penting bagi perdagangan energi global.
Teheran menyatakan pemulihan penuh keamanan serta normalisasi pelayaran komersial bergantung pada berakhirnya tindakan militer AS.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran dan AS tidak hanya berdampak pada hubungan politik dan keamanan, tetapi juga berpotensi memiliki konsekuensi lebih luas terhadap perdagangan dan stabilitas ekonomi dunia dilansir Antara.
Pada akhirnya, negara-negara Teluk kini menghadapi pilihan yang semakin rumit. Mereka tetap membutuhkan AS sebagai mitra keamanan, tetapi perang dengan Iran membuat biaya strategis dari kemitraan tersebut ikut dipertanyakan.
Bagi kawasan Teluk, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang menang dalam konflik AS-Iran, melainkan bagaimana menjaga keamanan kawasan tanpa terseret lebih jauh ke dalam perang yang belum jelas kapan berakhir.