Jumat, 23 Januari 2026

Macron dan Starmer Usulkan Gencatan Senjata Satu Bulan di Ukraina


 Macron dan Starmer Usulkan Gencatan Senjata Satu Bulan di Ukraina Arsip - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer (kiri) bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. (Antaranews)

PARIS, ARAHKITA.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa ia dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah mengajukan proposal gencatan senjata selama satu bulan di wilayah udara, laut, serta terhadap infrastruktur energi di Ukraina.

Dalam wawancara dengan Le Figaro, Macron menjelaskan bahwa proposal tersebut tidak mencakup situasi di darat karena panjangnya garis depan yang membuat verifikasi kepatuhan terhadap gencatan senjata menjadi sulit.

"Kami tidak tahu bagaimana mengukurnya. Perlu diketahui bahwa panjang garis depan saat ini setara dengan jarak Paris-Budapest. Jika gencatan senjata diterapkan, akan sangat sulit untuk memverifikasi kepatuhannya di garis depan," ujar Macron.

Presiden Prancis itu juga menegaskan bahwa pasukan Barat tidak akan hadir di Ukraina dalam waktu dekat.

"Tidak akan ada pasukan Eropa di tanah Ukraina dalam beberapa pekan ke depan. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu ini untuk mencoba mencapai gencatan senjata yang dapat diterapkan melalui negosiasi yang akan memakan waktu beberapa pekan," kata Macron.

"Setelah perjanjian damai ditandatangani, barulah penempatan pasukan bisa dilakukan," kata Presiden Prancis itu, seraya menambahkan bahwa dia "tidak menginginkan perdamaian tanpa jaminan dan dengan harga berapa pun."

Macron juga yakin bahwa dialog antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy akan kembali berlangsung setelah ketegangan yang sempat terjadi saat kunjungan Zelenskyy ke Gedung Putih.

Lebih lanjut, Macron menyatakan bahwa investasi awal dalam "dana pertahanan bersama Uni Eropa," yang ia harapkan dapat disepakati dalam KTT Uni Eropa pada Kamis mendatang, akan mencapai "200 miliar euro" ( sekitar 207,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp3,38 kuadriliun).

Selain itu, Macron juga ingin mulai membahas aspek "Eropa" dalam penggunaan senjata nuklir Prancis.

"Mereka yang ingin memperdalam dialog dengan kami, dapat, jika diperlukan, terlibat dalam latihan pencegahan nuklir. Pertukaran ini akan berkontribusi pada pengembangan budaya strategis yang nyata di antara negara-negara Eropa," ujarnya dikutip Antara.

Menurut Macron, tentara Prancis "bisa saja menempatkan senjata nuklir di negara mitra dengan kerja sama angkatan bersenjata mereka."Pada Minggu (2/3), sejumlah pemimpin negara Eropa menggelar pertemuan informal di London untuk membahas situasi di Ukraina serta keamanan kolektif Eropa.

Sementara itu, dalam pertemuan dengan anggota tetap Dewan Keamanan Rusia pada Januari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa tujuan penyelesaian konflik di Ukraina bukanlah sekadar gencatan senjata jangka pendek atau kesempatan untuk merombak pasukan dan mempersenjatai ulang demi melanjutkan pertempuran, melainkan perdamaian jangka panjang.

 

 

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru