Loading
Relawan Gali Reruntuhan dengan Tangan Kosong untuk Selamatkan Korban. (Keidenesia TV)
ANAK-anak di tempat penitipan anak Bright Kids di Kyaukse, sebuah kota di selatan Mandalay, sedang tidur siang ketika gempa terjadi pada Jumat sore. Bangunan dua lantai itu runtuh dengan puluhan anak berusia antara dua dan empat tahun terperangkap di dalamnya. Selama berjam-jam, penyelamat menyaring puing-puing, mencari korban selamat dengan perasaan yang kian putus asa.
“Kami membersihkan gedung menggunakan penggali dan menyelamatkan orang-orang dengan peralatan manual,” kata Thar Nge, seorang relawan seperti dilansir The Guardian.
Mereka membutuhkan peralatan yang lebih baik, pemotong logam dan generator, tetapi semua itu tak ada. Para relawan memanfaatkan apa saja yang mereka miliki untuk mengais puing.
Thar Nge membantu membawa seorang gadis berusia empat tahun ke tempat yang aman. Gadis itu tertimbun reruntuhan dan terus memohon agar Thar Nge menyelamatkannya. Thar Nge menjepitkan sebotol air ke mulutnya sebelum tubuhnya yang berdebu berhasil diselamatkan.
Gadis itu termasuk di antara 12 anak yang selamat, bersama empat guru. Sedangkan 16 anak dan seorang guru ditemukan tewas. Thar Nge nyaris tidak punya waktu untuk merasakan emosi apa pun.
Setelah itu, timnya yang terdiri dari 11 relawan bergerak maju melintasi Kyaukse, salah satu dari banyak daerah yang hancur akibat gempa bumi hari Jumat.
Pemandangan serupa terjadi di seluruh Myanmar bagian tengah, dengan tim relawan menggunakan apa pun yang mereka miliki untuk membebaskan para korban, menggali dengan tangan kosong dan merangkak melalui bangunan yang runtuh, seringkali tanpa peralatan keselamatan.
Para korban luka dibawa ke rumah sakit yang sudah kewalahan sebelum bencana dan sekarang benar-benar kewalahan. Menurut junta militer Myanmar, lebih dari 1.600 orang tewas dan lebih dari 3.400 orang luka-luka akibat gempa tersebut. Badan-badan bantuan memperingatkan bahwa butuh waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mengetahui skala bencana yang sebenarnya.
Di media sosial, gambar-gambar menunjukkan kehancura. Biara-biara bersejarah, pagoda, dan masjid di daerah pusat hancur atau sebagian runtuh. Rumah-rumah panggung kayu yang mengelilingi Danau Inle yang terkenal, di Negara Bagian Shan, rata dengan tanah. Ada gambar-gambar gedung apartemen, hotel, dan jalan, semuanya rusak.
Di dunia maya juga ada permohonan dari kerabat yang putus asa. Di Facebook, seorang pria di Mandalay meminta bantuan, merekam tumpukan lempengan beton, balok kayu, dan batang logam. Ibu dan anak-anaknya berada di bawah reruntuhan, katanya. Tidak ada penyelamat yang datang.
Dalam video Facebook lainnya, seorang pria, yang tercekik oleh emosi, berdoa untuk ibunya. Dia duduk di samping jasadnya, yang masih terperangkap di reruntuhan, sambil memegang tangannya.
“Tolong teruslah hidup yang baik, Ibu. Tolong jangan khawatirkan saya,” kata pria itu, yang berada di Naypyidaw, ibu kota Myanmar.
Naypyidaw juga dilanda bencana parah. Seorang petugas penyelamat di sana mengatakan tim telah bekerja sepanjang malam, seraya menambahkan hal tersulit adalah harus menyerah pada orang-orang yang terjebak.
"Saya merasa sangat berat. Masih banyak jenazah yang harus dipindahkan. Tidak hanya dipindahkan, tetapi juga digali," kata relawan tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. Jenazah dikirim ke kamar mayat di kota tersebut, tetapi tidak ada listrik di sana.
Di Naypyidaw dan Mandalay, tidak ada cukup tim untuk menanggapi semua panggilan. "Tim amal dan pemuda bekerja sama untuk melakukan pekerjaan penyelamatan. Kemarin, insiden terjadi di mana-mana. Kami harus mengelola dengan sumber daya manusia yang kami miliki," kata Thein Min Tun, petugas penyelamat relawan lainnya di Mandalay.
Gempa tersebut memperparah situasi putus asa di Myanmar, yang telah dicengkeram konflik sejak 2021 ketika militer merebut kekuasaan, menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi. Mata uang, kyat, telah jatuh sejak saat itu dan 15,2 juta orang - hampir sepertiga dari populasi Myanmar - menghadapi kerawanan pangan akut.
Permintaan Bantuan
Pada hari Jumat, junta militer mengajukan permohonan bantuan asing yang jarang terjadi. Badan-badan bantuan memperingatkan bahwa mengoordinasikan respons akan menjadi rumit. Jalan-jalan utama rusak, telepon dan internet terputus, listrik padam, dan beberapa bandara ditutup. Militer, yang menurut laporan lokal terus melakukan serangan udara setelah gempa, juga memiliki rekam jejak menghalangi bantuan kemanusiaan dari daerah-daerah tempat para penentangnya beraksi.
Junta militer berjuang untuk menghentikan gerakan oposisi bersenjata yang terdiri dari kelompok-kelompok sipil pro-demokrasi yang dibentuk setelah kudeta, serta kelompok-kelompok etnis bersenjata yang lebih mapan. Junta militer telah kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah di perbatasannya, namun masih menguasai kota-kota utama, termasuk Mandalay dan daerah-daerah di pusat kota, meskipun penduduk setempat kurang percaya pada kemampuannya untuk menanggapi bencana tersebut.
"Tidak ada pernyataan manajemen atau pernyataan publik dari pihak berwenang. Layanan pemerintah tidak melakukan apa pun. Mereka hanya berpatroli di sekitar kota kemarin,” kata seorang warga setempat yang seperti banyak orang lain, meminta untuk tidak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan dari pihak berwenang.
Ia mengatakan bahwa ia sedang melaksanakan salat Ramadan di masjid Ywar Taw ketika gempa terjadi. “Tidak ada yang datang untuk menyelamatkan kami. Kami harus menyelamatkan orang-orang sendiri," katanya.
Ia yakin 28 orang tewas di enam masjid di kotanya, Yamethin.
Masjid-masjid sangat rentan karena beberapa berusia hingga 100 tahun, dan sumber itu mengatakan pihak berwenang, yang terkait dengan mayoritas penganut Buddha Bamar, belum memberikan izin untuk merenovasi bangunan tersebut.
Untuk saat ini, para relawan melakukan apa yang mereka bisa. Tim Thar Nge misalnya, segera pergi ke toko sutra dan kain yang runtuh tempat tujuh orang terjebak, berlanjur ke sebuah restoran tempat enam mayat ditemukan, sebuah kedai teh tempat dua mayat ditemukan, dan sebuah pasar di mana mereka menemukan tiga mayat lagi.
Mereka bolak-balik dari lokasi penyelamatan ke rumah sakit dan pemakaman.
Han Myo Aung, seorang relawan, mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, meskipun peluang untuk menemukan lebih banyak orang yang masih hidup sangat kecil.
"Kita juga perlu merobohkan bangunan-bangunan yang berisiko runtuh."
Rumah sakit setempat, katanya, masih menerima pasien tetapi menempatkan mereka di ruang terbuka di dekatnya, karena risiko keruntuhan lebih lanjut. Di luar bangunan dokter berusaha berbuat sebisa mungkin, termasuk membantu persalinan dan melakukan operasi.
"Situasi ini sangat sulit, sangat sulit. Kami mencoba menyelamatkan orang-orang dari bawah reruntuhan. Kami belum pernah mengalami gempa seperti ini sebelumnya."