Loading
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kasus kecacingan yang belakangan menjadi viral setelah seorang anak di Jawa Barat meninggal dunia dengan tubuhnya ditemukan dipenuhi cacing, kembali membuka perhatian publik tentang penyakit parasit ini. Berita ini juga memicu tanggapan berbagai pihak, termasuk Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), ada tujuh hal penting yang perlu diketahui terkait kecacingan.
1. Penjelasan resmi rumah sakit pentingSebelum mengambil kesimpulan terkait kematian anak tersebut, perlu menunggu hasil investigasi dan penjelasan resmi dari pihak rumah sakit mengenai kondisi klinis dan penyebab kematian yang sebenarnya.
2. Penanganan lingkungan sekitarSelain di rumah sakit, langkah pencegahan juga harus dilakukan di lingkungan tempat tinggal anak tersebut. Pemeriksaan tanah, air, dan kebersihan area bermain anak perlu segera dilakukan agar kasus serupa tidak terulang.
3. Jenis-jenis cacing penyebab infeksiMenurut WHO, infeksi cacing dapat disebabkan oleh berbagai parasit, termasuk cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), serta Strongyloides stercoralis dan jenis lainnya.
4. Cara penularan kecacinganPenularan utama terjadi melalui telur cacing yang terdapat dalam tinja dan kemudian mencemari tanah. Anak-anak yang bermain di tanah yang terkontaminasi dan kemudian memasukkan tangan ke mulut tanpa mencuci dapat terinfeksi. Penularan juga bisa terjadi melalui air yang tercemar atau makanan yang tidak higienis.
5. Faktor risiko pada anakAnak yang mengalami kecacingan umumnya memiliki kondisi gizi kurang atau gangguan fisik tertentu. Kekurangan nutrisi ini membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi parasit.
6. Penanganan dan pencegahanWHO menyarankan empat pendekatan utama untuk mengatasi kecacingan: konsumsi obat cacing secara rutin, penyuluhan kesehatan, perbaikan sanitasi lingkungan, serta pemberian obat antihelmintik yang aman dan efektif jika penyakit sudah terjadi.
7. Target pengendalian global dan nasionalWHO menargetkan pengendalian penyakit cacing tanah (soil-transmitted helminth) secara global pada tahun 2030. Indonesia pun sebaiknya memiliki target pengendalian yang jelas, terutama dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045 agar kecacingan tidak lagi menjadi masalah kesehatan publik.
Dampak Kecacingan pada Paru-ParuSelain menyerang saluran pencernaan, cacing juga dapat memengaruhi organ lain, termasuk paru-paru. Anak yang kecacingan berat bisa mengalami batuk, sesak napas, mengi, bahkan batuk darah atau batuk yang disertai cacing. Kondisi serius dapat memicu pneumonia, efusi pleura, paru-paru kolaps, sindrom Loeffler, hipertensi paru, hingga gagal napas akut (ARDS).
Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan dahak, bronkoskopi dengan teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL), dan pemeriksaan radiologi seperti rontgen toraks atau CT scan. Pengobatan melibatkan obat antihelmintik seperti albendazole, mebendazole, atau ivermectin, serta terapi suportif sesuai gejala yang muncul.
Kasus yang baru-baru ini terjadi menjadi pengingat bahwa kecacingan masih menjadi ancaman kesehatan anak-anak Indonesia. Pencegahan melalui sanitasi yang baik, pendidikan kesehatan, dan pemeriksaan rutin tetap menjadi kunci utama melindungi generasi muda dari penyakit parasit ini.