Loading
Ilustrasi -- Perempuan sedang bercermin. Ketidakseimbangan hormon steroid bisa memicu munculnya jerawat persisten dan gangguan siklus menstruasi pada perempuan. (Pexels/Andrea Piacquadio)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketidakseimbangan hormon steroid seperti testosteron, estrogen, dan progesteron tidak bisa dianggap sepele. Kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari jerawat yang tak kunjung sembuh, siklus menstruasi tidak teratur, hingga masalah kesuburan, baik pada perempuan, pria, maupun anak.
Dalam kasus tertentu, gangguan hormon steroid bahkan berisiko berkembang menjadi kondisi medis serius, seperti Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH), yang berkaitan dengan kelainan produksi hormon adrenal sejak lahir.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Noroyono Wibowo, Sp.OG, menjelaskan bahwa hormon dalam tubuh manusia tidak bekerja secara terpisah. Respons tubuh terhadap hormon sangat dipengaruhi oleh jalur metabolisme yang kompleks.
“Dalam praktik klinis, hormon tidak pernah bekerja sendirian. Respons tubuh terhadap hormon sangat dipengaruhi jalur metabolik seperti glikolisis, siklus TCA, hingga metabolisme satu-karbon,” ujar Prof. Noroyono, dikutip dari siaran pers Prodia, Kamis (11/12/2025).
Ia menambahkan, perubahan kecil pada metabolit dalam jalur tersebut dapat memengaruhi cara tubuh memproduksi maupun merespons hormon steroid. Karena itu, pemahaman menyeluruh terhadap metabolisme tubuh menjadi kunci dalam menilai kondisi kesehatan atau wellness seseorang.
Salah satu jalur metabolisme penting adalah Siklus TCA (Tricarboxylic Acid Cycle) yang berperan sebagai pusat produksi energi sel. Ketika jalur ini terganggu, bukan hanya energi sel yang menurun, tetapi juga metabolisme hormon steroid dapat ikut terpengaruh.
Pemeriksaan metabolit dalam Siklus TCA dinilai mampu membantu dokter menelusuri akar masalah gangguan metabolik maupun hormonal secara lebih akurat, terutama pada kasus yang sulit terdeteksi dengan pemeriksaan konvensional.
Di Indonesia, pemeriksaan hormon umumnya masih menggunakan metode imunologi. Metode ini efektif untuk mengukur hormon dengan kadar tinggi, namun memiliki keterbatasan sensitivitas saat digunakan untuk mendeteksi hormon dengan kadar sangat rendah, seperti hormon androgen pada perempuan dan anak.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, teknologi Mass Spectrometry berbasis LC–MS/MS menjadi solusi yang semakin relevan. Teknologi ini mampu mengukur molekul berdasarkan massa dan muatan, sehingga dapat membaca hormon dalam jumlah sangat kecil dengan tingkat presisi yang tinggi.
Pemeriksaan hormon berbasis LC–MS/MS memungkinkan analisis metabolit androgen dan hormon steroid secara lebih komprehensif, termasuk Rasio Testosteron/DHT, Androsterone, hingga Steroid Hormone Panel secara menyeluruh.
Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty, menyebut bahwa pemanfaatan teknologi mass spectrometry tidak hanya terbatas pada pemeriksaan genetik.
“Teknologi mass spectrometry ini bukan hanya tentang genomik, tetapi juga mencakup multiomics lainnya untuk memahami kondisi tubuh secara menyeluruh, membantu prediksi dini penyakit, serta merancang strategi pengobatan yang lebih personal sesuai kondisi unik individu,” ujarnya.