Dokter Ungkap Gejala Infeksi Jantung pada Anak yang Sering Dianggap Flu Biasa


 Dokter Ungkap Gejala Infeksi Jantung pada Anak yang Sering Dianggap Flu Biasa Ilustrasi - Pemeriksaan kesehatan jantung. ANTARA/Pixabay/am.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Infeksi jantung pada anak masih menjadi masalah kesehatan yang sering terlambat terdeteksi karena gejalanya kerap menyerupai penyakit ringan seperti flu atau infeksi biasa. Padahal, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius yang mengancam kesehatan anak.

Dokter spesialis anak konsultan kardiologi, dr. Sarah Rafika Nursyirwan, Sp.A, Subsp. Kardio (K), mengingatkan orang tua untuk lebih waspada terhadap sejumlah tanda yang dapat mengarah pada infeksi jantung, terutama jika keluhan tidak kunjung membaik.

Dalam webinar yang diselenggarakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (2/6/2026), Sarah menjelaskan bahwa gejala awal infeksi jantung sering kali tidak spesifik sehingga mudah terlewatkan.

"Tentu harus kita sosialisasikan. Jangan sampai kalau keluhannya sudah memberat, jangan sampai terlambat dibawa ke dokter. Contohnya bila sesak napasnya makin memberat atau bibir dan kukunya tampak kebiruan," kata Sarah.

Menurutnya, bibir dan kuku yang membiru dapat menjadi pertanda aliran darah ke jaringan tubuh tidak berjalan optimal sehingga memerlukan penanganan medis segera.

Sarah menjelaskan, anak yang mengalami demam berkepanjangan, tubuh lemas, berat badan menurun, serta kondisi kesehatan yang terus memburuk perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Gejala tersebut dapat menjadi indikasi adanya infeksi pada organ vital, termasuk jantung.

Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan keluhan seperti nyeri dada, jantung berdebar, hingga pingsan secara tiba-tiba pada anak.

"Pada bayi memang gejalanya kadang tidak khas. Tapi pemeriksaan seperti EKG, ekokardiografi atau USG jantung, serta rontgen toraks dapat membantu memastikan apakah terdapat infeksi jantung," ujarnya.

Infeksi jantung pada anak umumnya terjadi akibat masuknya kuman yang menyerang jaringan jantung. Namun, kondisi ini juga bisa muncul karena respons autoimun tubuh setelah mengalami infeksi tertentu.

Sarah menjelaskan, infeksi yang tampak ringan seperti infeksi kulit maupun infeksi saluran pernapasan dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius apabila tidak ditangani dengan baik, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh rendah.

Salah satu kondisi yang sering dianggap sepele adalah radang tenggorokan akibat infeksi bakteri Streptococcus grup A. Jika tidak diobati secara tuntas, penyakit tersebut berpotensi berkembang menjadi demam reumatik akut yang dapat menyebabkan kerusakan katup jantung permanen.

"Radang tenggorokan ini bukan sesuatu yang sepele. Jika penyebabnya bakteri Streptococcus dan tidak diobati sampai tuntas, dapat berlanjut menjadi kerusakan jantung," jelas Sarah.

Sarah menyebutkan terdapat empat jenis utama penyakit infeksi jantung pada anak, yaitu:

  1. Perikarditis (radang selaput jantung)
  2. Miokarditis (radang otot jantung)
  3. Endokarditis (infeksi lapisan dalam jantung)
  4. Demam reumatik akut atau penyakit jantung rematik (Rheumatic Heart Disease/RHD)

Menurutnya, sebagian besar komplikasi akibat infeksi jantung sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta pencegahan kekambuhan penyakit.

Pada kasus penyakit jantung rematik, pasien bahkan perlu menjalani terapi antibiotik berkala setiap tiga hingga empat minggu untuk mencegah kerusakan jantung yang lebih berat.

Selain pengobatan yang tuntas, Sarah menekankan pentingnya imunisasi untuk melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi yang berpotensi menyerang jantung.

Ia mengingatkan bahwa kesehatan jantung anak perlu dijaga sejak dini karena organ tersebut berperan penting dalam mendukung proses tumbuh kembang hingga dewasa.

"Infeksi jantung pada anak harus dikenali lebih dini karena kita harus melindungi jantung anak yang masih akan bertumbuh sampai dewasa. Kondisi ini bisa serius, tetapi sebagian besar komplikasinya dapat dicegah dengan pengenalan gejala yang cepat dan penanganan yang tepat," tuturnya.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru