Loading
Ilustrasi Penderita demensia Pixabay
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sejumlah peneliti mengungkap alasan perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia dibandingkan pria melalui studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Biology of Sex Differences.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menganalisis data dari Health and Retirement Study di Amerika Serikat yang melibatkan 17.182 peserta berusia 40 tahun ke atas, dengan hampir 60 persen di antaranya merupakan perempuan.
Penelitian yang dikutip dari Eating Well, Rabu (27/5), menelaah 13 faktor kesehatan dan gaya hidup yang dapat diubah atau dikendalikan, seperti depresi, kurang aktivitas fisik, diabetes, hipertensi, obesitas, gangguan tidur, gangguan pendengaran, hingga isolasi sosial.
Para peneliti kemudian membandingkan faktor-faktor tersebut dengan hasil tes kognitif peserta yang mengukur kemampuan mengingat dan berhitung sederhana.
Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki lebih banyak faktor risiko dibanding laki-laki. Tingkat depresi, kurang aktivitas fisik, dan masalah tidur ditemukan lebih tinggi pada perempuan.
Baca juga:
Perut Gendut dan Risiko PikunMeski laki-laki lebih sering mengalami diabetes dan gangguan pendengaran, dampak kondisi tersebut terhadap penurunan fungsi otak justru lebih besar pada perempuan.
Selain itu, masalah kesehatan jantung dan metabolisme seperti tekanan darah tinggi serta indeks massa tubuh tinggi juga diketahui memberikan efek yang lebih buruk terhadap kemampuan berpikir perempuan.
Peneliti menilai hasil ini menunjukkan bahwa risiko demensia tidak dapat ditangani dengan pendekatan yang sama untuk setiap orang.
Walaupun penelitian tersebut hanya menunjukkan hubungan keterkaitan dan belum membuktikan sebab-akibat secara langsung, hasilnya dinilai penting untuk mendorong pendekatan kesehatan yang lebih personal berdasarkan jenis kelamin dan kondisi individu.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan perempuan untuk membantu menurunkan risiko penurunan fungsi kognitif.
Pertama, menangani gangguan pendengaran sejak dini melalui pemeriksaan rutin dan penggunaan alat bantu dengar jika diperlukan.
Kedua, mengelola risiko diabetes dengan menjaga kadar gula darah melalui pola makan tinggi serat, olahraga rutin, dan tidur cukup.
Ketiga, mengontrol tekanan darah dengan bantuan tenaga medis, menjaga aktivitas fisik, dan menerapkan pola makan sehat untuk menjaga kestabilan tekanan darah.