Loading
Ilustrasi seorang penumpang perempuan duduk di dekat jendela ketika menaiki pesawat. (Foto: iStock/Wasan Tita)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Teknologi penerbangan berkembang pesat, namun ironisnya, pengalaman terbang justru terasa makin melelahkan bagi sebagian orang, terutama penumpang kelas ekonomi. Ruang kaki yang terbatas, kabin yang bising, hingga turbulensi yang datang tiba-tiba membuat perjalanan udara kerap menguras energi fisik dan mental.
Tak sedikit penumpang merasa kursi pesawat kini semakin sempit. Lutut yang menempel pada kursi depan bukan lagi hal asing, apalagi untuk penerbangan jarak jauh. Di saat yang sama, kekhawatiran akan turbulensi juga meningkat.
Fenomena turbulensi bahkan bisa terjadi saat langit tampak cerah. Kondisi ini dikenal sebagai clear-air turbulence, yang sulit terdeteksi radar pesawat. Para peneliti mencatat, intensitas turbulensi jenis ini meningkat seiring perubahan iklim akibat pemanasan global.
Kondisi tersebut turut memengaruhi persepsi penumpang terhadap dunia penerbangan. Jaclynn Seah, penulis perjalanan asal Singapura sekaligus pengelola blog The Occasional Traveller, mengaku pesona terbang kini tak lagi seperti dulu.
“Terbang sekarang terasa mahal dan melelahkan. Maskapai memisahkan hampir semua layanan, mulai dari makanan sampai selimut, sebagai biaya tambahan,” ujarnya, seperti yang dikutip dari CNA
Ia juga menyoroti kebersihan kabin pesawat yang menurutnya sering luput dari perhatian.
“Hal pertama yang selalu saya lakukan setelah duduk adalah membersihkan meja dan sandaran tangan dengan tisu basah. Bukan hanya karena COVID, tapi karena pembersihan menyeluruh jarang dilakukan saat pergantian penerbangan,” katanya.
Untuk mengurangi rasa tidak nyaman, Jaclynn menyarankan penumpang membawa earbud peredam bising.
“Bahkan tanpa musik, meredam suara mesin pesawat bisa membantu tubuh dan pikiran lebih rileks,” tambahnya.
Strategi Mencari Kenyamanan di Kelas Ekonomi
Banyak penumpang mulai mengembangkan strategi pribadi agar terbang terasa lebih manusiawi. Salah satunya memanfaatkan program bid to upgrade yang ditawarkan sejumlah maskapai, sehingga penumpang berpeluang mendapatkan kursi premium dengan harga lebih terjangkau.
Ada pula yang memilih bekerja selama penerbangan. Fokus pada tugas dianggap membuat waktu berjalan lebih cepat dibanding menonton hiburan yang monoton. Meski bukan pilihan ideal bagi semua orang, cara ini cukup efektif bagi sebagian penumpang.
Beberapa orang menerapkan aturan perjalanan pribadi, seperti memilih kelas premium untuk penerbangan di atas enam jam atau menghindari bandara tertentu yang akses ke pusat kota terlalu merepotkan. Aturan sederhana ini dinilai mempermudah pengambilan keputusan sekaligus mengurangi stres.
Masalah lain yang kerap muncul adalah tangisan bayi di kabin. Penelitian dari Universitas Jean Monnet di Prancis menemukan bahwa suara tangisan balita dapat memicu respons stres fisik, termasuk peningkatan suhu tubuh orang di sekitarnya.
Sebagai solusi murah, sebagian penumpang memanfaatkan white noise dari ponsel untuk meredam suara sekitar. Trik sederhana ini cukup efektif membantu tidur di pesawat.
Namun, menurut banyak pelancong berpengalaman, kunci utama justru ada pada kesiapan mental. Datanglah dengan ekspektasi terburuk. Jika penerbangan berjalan kacau, Anda sudah siap. Jika ternyata lebih baik dari dugaan, perjalanan terasa jauh lebih menyenangkan.
Pendekatan ini dikenal sebagai defensive pessimism, dan bagi banyak orang, cara ini ampuh menjaga kewarasan saat terbang.