Penderita Hipertensi dan Diabetes Bisa Puasa, Asal Perhatikan Pola Makan


 Penderita Hipertensi dan Diabetes Bisa Puasa, Asal Perhatikan Pola Makan Ilustrasi Petugas melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan hemoglobin. (Antara)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pasien dengan penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes tetap dapat menjalani ibadah puasa, asalkan mampu mengatur pola makan secara tepat dan menyesuaikannya dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Dokter spesialis gizi klinik Universitas Indonesia, Dr. dr. Inge Permadhi, MS, SpGK (K), menjelaskan bahwa kunci utama puasa bagi pasien komorbid adalah menghindari makanan pemicu penyakit dan menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat.

“Pada hipertensi, salah satu pemicu utamanya adalah konsumsi garam berlebihan. Jadi, baik puasa maupun tidak, asupan garam harus tetap dikurangi,” ujar Inge saat dihubungi di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, kebutuhan natrium dapat dialihkan dengan meningkatkan asupan kalium yang banyak terdapat dalam sayur dan buah. Cara ini dinilai efektif membantu menjaga tekanan darah tetap stabil selama puasa.

Sementara itu, bagi penderita diabetes, Inge menyarankan pembatasan konsumsi karbohidrat sederhana seperti nasi putih dan makanan berbahan tepung. Sebagai gantinya, pasien dianjurkan memilih karbohidrat kompleks dengan komposisi seimbang.

“Karbohidrat kompleks idealnya sekitar 50–60 persen, protein 10–15 persen, dan lemak kurang dari 30 persen. Jangan lupa sayur dan buah sebagai sumber vitamin, mineral, dan cairan,” jelasnya seperti dikutip dari Antara.

Ia menegaskan, pola makan saat puasa sejatinya tidak jauh berbeda dari hari biasa, hanya waktu makannya yang berubah. Karena itu, sahur dan berbuka harus dimanfaatkan untuk mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang.

Untuk penderita diabetes, Inge juga mengingatkan agar tidak berlebihan mengonsumsi sirup dan kurma saat berbuka puasa karena dapat memicu lonjakan gula darah.

“Kalau mau yang manis, lebih baik pilih gula alami dari buah, misalnya dalam bentuk jus buah tanpa tambahan gula,” katanya.

Lebih lanjut, Inge menyebutkan bahwa pasien hipertensi yang mengalami keluhan seperti sakit kepala hebat atau stres berlebihan hingga tekanan darah meningkat, disarankan untuk menghentikan puasa dan segera mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.

Hal serupa berlaku bagi penderita diabetes. Jika kadar gula darah turun di bawah 80 mg/dL, puasa sebaiknya dibatalkan untuk mencegah kondisi berbahaya seperti lemas hingga kehilangan kesadaran.

“Hipoglikemia itu berisiko, jadi jangan dipaksakan. Segera konsumsi makanan manis seperti cokelat untuk menaikkan gula darah,” tambahnya.

Inge juga menekankan pentingnya tetap mengonsumsi obat secara rutin saat sahur dan berbuka, serta berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam sebelum memutuskan berpuasa, guna memastikan kondisi tubuh benar-benar siap.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru