Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. ANTARA/Xinhua.
TEHERAN, ARAHKITA.COM – Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, melontarkan kritik tajam terhadap Uni Emirat Arab (UEA) yang dinilai mendukung pihak-pihak agresor dalam konflik kawasan.
Dalam konferensi pers di Teheran, Senin (4/5/2026), Baghaei menyebut langkah UEA tersebut tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Tindakan tersebut menimbulkan banyak masalah, tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi keamanan kawasan dan solidaritas antarnegara di Timur Tengah,” ujarnya.
Baca juga:
ASEAN Desak AS dan Iran Tahan Eskalasi, Khawatir Upaya Perdamaian Timur Tengah Gagal TotalSelain itu, Iran juga mengkritik keputusan UEA yang keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Menurut Baghaei, langkah tersebut tidak mencerminkan sikap konstruktif dalam menjaga kerja sama antarnegara produsen minyak.
“Itu sama sekali tidak konstruktif, ketika suatu negara ingin menarik diri sebagai reaksi negatif atau bentuk balas dendam terhadap negara-negara di kawasan atau anggota OPEC,” kata Baghaei.
Baca juga:
Iran Terima Usulan Mediator, Tegaskan Jalur Diplomatik Tetap Berjalan di Tengah Konflik dengan ASUEA sebelumnya resmi keluar dari OPEC dan aliansi OPEC+ mulai 1 Mei 2026 sebagai bagian dari strategi energi nasionalnya.
Iran menilai keputusan tersebut berpotensi memperburuk dinamika geopolitik di kawasan yang tengah mengalami ketegangan tinggi. Baghaei juga berharap negara-negara di Timur Tengah dapat mengambil pelajaran dari perkembangan situasi dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, keputusan UEA keluar dari OPEC disebut-sebut memberi fleksibilitas lebih besar dalam menentukan produksi minyak dan strategi ekonomi jangka panjangnya.
Langkah tersebut juga dinilai dapat memengaruhi keseimbangan pasar energi global serta hubungan antarnegara produsen minyak di kawasan.