Rupiah Melemah ke Rp17.405 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu


 Rupiah Melemah ke Rp17.405 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj/am.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa (5/5/2026) pagi melemah tipis ke level Rp17.405 per dolar AS, turun 11 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.394.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas dan mendorong penguatan dolar AS.

“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ujar Lukman di Jakarta.

Kekhawatiran pasar meningkat setelah muncul laporan adanya serangan di kawasan Uni Emirat Arab (UEA) yang dikaitkan dengan ketegangan regional. Namun, Iran membantah tuduhan rencana serangan terhadap negara tersebut.

Di sisi lain, laporan lain menyebutkan meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, yang turut memicu kekhawatiran gangguan jalur perdagangan energi global.

Situasi ini membuat investor global cenderung mencari aset aman seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal I-2026 yang akan menjadi salah satu penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih terbatas dengan kisaran pergerakan Rp17.350 hingga Rp17.450 per dolar AS.

Meski mengalami pelemahan, analis menilai kondisi rupiah masih relatif stabil di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Pelaku pasar kini fokus pada perkembangan geopolitik serta data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru