Loading
ilustrasi karyawan bekerja larut malam (ANTARA/Pexels)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi selama ini identik dengan kemalasan dan rendahnya disiplin diri. Namun, psikolog menilai anggapan tersebut tidak selalu tepat. Dalam kondisi tertentu, menunda tugas justru bisa menjadi bagian dari cara alami otak mengelola motivasi dan memunculkan kreativitas.
Menurut ulasan yang dimuat Psychology Today, setiap orang memiliki pola kerja yang berbeda. Ada individu yang merasa lebih produktif ketika menyelesaikan pekerjaan secara bertahap sejak awal, tetapi ada pula yang justru mampu bekerja optimal ketika tenggat waktu mulai mendekat.
Psikolog menjelaskan bahwa sebagian orang memang lebih termotivasi oleh tekanan batas waktu dibandingkan daftar tugas yang harus diselesaikan sedikit demi sedikit.
"Pandangan umum yang menganggap menunda pekerjaan sebagai perilaku negatif dinilai terlalu menyederhanakan cara kerja otak manusia," tulis Psychology Today.
Banyak orang merasa bersalah ketika tidak bekerja sesuai standar produktivitas yang dianggap ideal. Padahal, tidak semua bentuk penundaan menunjukkan kurangnya motivasi atau disiplin.
Dalam beberapa kasus, periode yang tampak tidak produktif justru menjadi waktu penting bagi otak untuk memproses informasi di balik layar. Kondisi ini berkaitan dengan aktivitas default mode network (DMN), yaitu jaringan otak yang aktif saat seseorang sedang beristirahat, melamun, atau tidak fokus pada tugas tertentu.
Meski tubuh terlihat santai, otak tetap bekerja menjalankan berbagai fungsi penting, mulai dari menghubungkan pengalaman lama dengan informasi baru, mengolah emosi, menyusun strategi, hingga memunculkan gagasan kreatif.
Temuan penelitian yang dilakukan oleh psikolog dan peneliti pendidikan Mary Immordino-Yang bersama rekan-rekannya pada 2012 menunjukkan bahwa waktu untuk beristirahat dan melakukan refleksi internal memiliki manfaat yang signifikan bagi perkembangan cara berpikir seseorang.
Penelitian tersebut menemukan bahwa aktivitas seperti melamun atau tidak melakukan pekerjaan tertentu untuk sementara waktu dapat membantu individu membangun perspektif baru terhadap masalah yang sedang dihadapi.
"Periode beristirahat, melamun, atau tidak melakukan aktivitas tertentu dapat membantu proses refleksi internal yang konstruktif," ungkap Mary Immordino-Yang dan tim peneliti dalam studi tersebut.
Melalui proses itu, seseorang berpeluang menemukan solusi yang lebih kreatif dibandingkan ketika terus memaksa diri bekerja tanpa jeda.
Psikolog menegaskan bahwa saat seseorang menunda pekerjaan, bukan berarti ia selalu menghindari tanggung jawab. Dalam banyak situasi, otak tetap memikirkan tugas tersebut secara tidak sadar dan mempersiapkan langkah-langkah penyelesaiannya.
Karena itu, memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat sesekali dapat membantu menjaga keseimbangan kesehatan mental sekaligus mendukung proses kreatif.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, mengamati lingkungan sekitar, bermeditasi, atau sekadar membiarkan pikiran mengembara dapat menjadi cara efektif untuk memberi kesempatan otak bekerja secara alami.
Meski memiliki potensi manfaat, psikolog mengingatkan bahwa tidak semua bentuk prokrastinasi akan berujung positif. Efektivitasnya sangat bergantung pada karakter masing-masing individu dan kemampuan mereka mengelola tenggat waktu.
Bagi sebagian orang, produktivitas terbaik lahir dari rutinitas yang terstruktur dan disiplin yang konsisten. Namun bagi yang lain, ide-ide paling cemerlang justru muncul ketika mereka sedang beristirahat atau terlihat tidak melakukan apa-apa.
Pada akhirnya, memahami cara kerja diri sendiri menjadi kunci utama. Sebab, otak manusia terkadang bekerja paling aktif bukan saat sibuk mengejar target, melainkan ketika pemiliknya tampak hanya duduk diam menatap langit.